BANTUL– Umat Hindu dari wilayah DIJ dan sebagian Jawa Tengah memadati Pura Jata Natha di Jalan Pura No 370, Plumbon, Banguntapan, Bantul kemarin (7/9). Mereka memeringati Hari Raya Galungan. Perayaan setiap enam bulan sekali tersebut merupakan salah satu upacara untuk menyatukan kekuatan rohani dan pikiran yang jernih. Menjadikannya wujud dharma dalam diri.

Ketua Pengurus Pura Anak Agung Suryahadi menuturkan, Galungan untuk menyinergikan kekuatan para dewa dengan kekuatan yang di bumi (roh jahat). Agar segala sesuatu yang buruk terangkat menjadi kekuatan yang baik seperti kekuatan para dewa.

Tak lupa, sesajian untuk memuja dewa disiapkan untuk menambah khusyuk prosesi upacara. Sesajian berujud bunga dan buah-buahan dimaksudkan sebagai visualisasi doa masing-masing umat. Seperti, doa keselamatan, kesehatan, kedamaian, dan anugerah dalam hidup. “Sesaji yang dibuat untuk setiap doa tersebut berbeda-beda. Dan dalam pembuatannya harus dikerjakan dengan hati-hati serta tidak mengucapkan kata-kata kotor,” ungkap Suryahadi.

Usai Galungan, malamnya umat Hindu beribadah lagi di pura untuk Upacara Wedalan. Perayaan Wedalan memeringati berdirinya pura. Jagat Natha, kata Suryahadi, dibangun pada 1978, bertepatan dengan peringatan Hari Raya Galungan tahun ini.

Menurut dia, tempat ibadah tersebut merupakan pura pusat bagi umat Hindu yang tinggal di wilayah DIJH.

Dalam kesempatan itu, Suryahadi turut menyikapi maraknya aksi kerusuhan di beberapa wilayah di Indonesia, yang membawa nama agama. Baginya, hal itu menjadi koreksi bagi dirinya sendiri dan umat lain agar tetap memegang teguh ajaran yang dianut.

Bagi Umat Hindu, jelas Suryahadi, dipegang filosofi Tatwamasi, yang berarti membawa kedamaian dan mengasihi seluruh makhluk hidup. Filosifi tersebut menjadi salah satu pedoman hidup umat Hindu. “Kita berasal dari satu yang hidup berdampingan, haruslah menjadi damai,” tuturnya. (cr1/yog/ong)