JOGJA – Idul Adha tinggal hitungan hari. Pengawasan penjualan hewan kurban terus dilakukan untuk memastikan kesehatan ternak yang dijual. Pengawasan juga dilakukan di lokasi penyembelihan dan pembuangannya, agar tetap higienis dan tak mencermarkan lingkungan.

Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi, dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja menyisir beberapa lokasi penjualan untuk memastikan kondisi hewan kurban yang dijual sehat dan layak. Medik veteriner Disperindagkoptan Kota Jogja drh Supriyanto mengatakan, sebagian besar penyakit hewan yang ditemukan berupa mata merah, kutil, dan diare. Jenis penyakit tersebut tidak termasuk penyakit yang membahayakan, sehingga hewan tetap bisa dipotong. “Tapi, kami sarankan hewan yang kena penyakit itu dipisahkan dari hewan lain,” jelasnya, kemarin (9/9).

Tahun ini, lanjutnya, juga ada rekomendasi bahwa hewan ternak yang dipelihara di area tempat pembuangan sampah tidak diberikan sertifikasi layak hewan kurban. Sebab, dikhawatirkan sudah kena cemaran sampah. “Pedagang yang sudah mendapatkan label sertifikasi harus memberi kabar ke petugas jika ada tambahan hewan yang didatangkan,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk cacing hati pada hewan kurban baru dapat diketahui setelah disembelih. Dia menuturkan, pada tahun lalu jika ada temuan cacing hati bagian yang terkena yang diafkir dan dimusnahkan. Tapi tahun ini, setiap hati yang ditemukan cacing hati semua bagian harus dimusnahkan. Hal itu untuk mengantisipasi persebaran bakteri cacing hati.

Pihaknya juga menyosialisasikan kelayakan kandang untuk berjualan. Menurutnya, hewan kurban yang dijual di tepi jalan raya bisa membuat hewan stres karena asap dan kondisi lalu lalang kendaraan. Kondisi itu akan mempengaruh nafsu makan dan berat badan hewan kurban turun, serta risiko penyakit tinggi sehingga pedagang juga akan rugi.

“Kami minta warga untuk membeli hewan kurban di penjual yang telah mendapatkan sertifikasi pemeriksaan dan label layak hewan kurban,” harapnya.

Terpisah, Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti meminta kepada panitia penyembelihan hewan kurban untuk memperhatikan proses penyembelihan sesuai dengan persyaratan. Seperti dengan memperhatikan tata cara penyembelihan.

“Pisau yang digunakan harus tajam, ojo dibanting kasihan hewan kurbannya. Perhatikan peri-kehewanan,” ujar HS, sapaannya, saat menerima bantuan hewan kurban dari BPD DIJ, kemarin (9/9).

HS mengatakan, dalam proses pemotongan hewan kurban sudah ada caranya sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, HS meminta panitia kurban memilih lokasi penyembelihan yang layak. Terutama di wilayah yang padat penduduk. HS mengingatkan supaya proses penyembelihan tidak mengganggu warga lain.

Termasuk dalam proses pembuangan kotoran hewan kurban agar tidak di sembarang tempat. “Lokasi penyembelihan harus layak, termasuk untuk tempat pembuangannya,” tandas HS.

Terkait lokasi pembuangan kotoran hewan kurban juga sudah diingatkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja Suyana. Dia meminta supaya pembuangan kotoran ditimbun tanah pada kedalaman tertentu. “Jangan asal menimbun kotoran, karena nanti bisa mencemari lingkungan,” pesannya.

Suyana juga mengingatkan untuk kebiasaan sebagian warga yang mencuci jeroan hewan kurban di sungai. Mantan kepala Disperindagkoptan Kota Jogja itu meminta jika mencuci jeroan di sungai menggunakan larutan air kapur. Itu dilakukan untuk meminimalkan dampak pencemaran lingkungan. “Tapi, lebih baik lagi kalau mencucinya tidak di sungai,” ujarnya.

Selain itu, BLH juga mengimbau kepada panitia penyembelihan hewan kurban supaya saat pembagian daging tidak menggunakan tas kresek warna hitam. Suyana mengatakan, itu sesuai dengan imbauan dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM). “Jangan menggunakan tas kresek hitam,” tandasnya.

Sebelumnya Kepala BBPOM DIJ I Gusti Ayu Adhi Aryapatni mengatakan, pihaknya sudah mengeluarkan surta edaran larangan penggunaan tas kresek hitam sebagai pembungkus makanan. Menurutnya, larangan tersebut tidak hanya diperuntukan bungkus daging kurban saja, tapi untuk semua jenis makanan. “Terutama yang kontak langsung dengan tas kresek,” ujarnya.

Alasan pelarangan tersebut, karena tas kresek hitam berasal dari plastik daur ulang. Tas kresek hitam tersebut, lanjutnya, merupakan tas kresek daur ulang yang dicampur dengan berbagai bahan logam atau kimia. Menggunakan bahan berbagai macam plastik dengan proses yang kurang higienis, termasuk kategori nonfood grade.

“Diberi warna hitam untuk mengaburkan warna aslinya, kalau dibaui kan juga berbau bahan kimia,” tuturnya.

Untuk bahan makanan yang dibungkus dengan tas kresek hitam tersebut, dikhawatirkan akan terkontaminasi dengan bahan berbahaya lain. Untuk itu, pihaknya menyarankan supaya masyarakat menggunakan tas kresek selain yang berwarna hitam atau sebelumnya dibungkus dengan plastik bening. “Kalau mau pakai kresek yang aman ya kresek bening karena bukan hasil daur ulang,” jelasnya. (pra/ila)