SLEMAN – Perhelatan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 28 yang berlangsung di Taman Kuliner Condongcatur, Depok, Sleman, resmi berakhir, kemarin malam (9/9). Gelaran yang dibuka sejak 23 Agustus lalu mampu menjaring 184 ribu pengunjung selama 18 hari.

Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono menilai, FKY 28 adalah cermin kesenian di Jogjakarta. Selama penyelenggaraan, FKY telah menyajikan ragam potensi seni di DIJ. Mulai dari kesenian tradisi, kesenian rakyat hingga kontemporer dan modern.

“Satu lagi yang perlu menjadi catatan penting. FKY 28 mampu menggambarkan bagaimana kreativitas anak mudanya. Semua pelaku seni dan pasar UMKM-nya itu anak muda,” kata Umar.

Umar menyebutkan beberapa stan yang menampilkan produk lokal. Menurutnya, produk-produk ini tak kalah dengan produk bermerek lainnya. Bahkan, seperti produk tas kamera mampu bersaing dengan produk branded yang ada di pasaran.

Dia menegaskan kreativitas para pemuda ini harus ditampung. Terutama kehadiran pemerintah dengan memfasilitasi dalam berbagai kegiatan. Termasuk menyediakan akses untuk berjualan dan berpromosi.

“FKY memberikan ruang kreativitas secara luas yang bisa dimanfaatkan dengan baik. FKY tidak hanya berbicara seni tapi juga menyediakan peluang pasar. Dapat menjadi nilai migunani bagi para pelaku usaha terutama yang baru merintis,” katanya.

Mengusung tema Masa Depan Hari Ini Dulu, FKY mencoba hadir dengan wajah yang baru. Ketua Umum FKY 28 Ishari Sahida melihat Jogjakarta memiliki potensi yang besar. Untuk menentukan wajah masa depan Jogjakarta tentu perlu disusun dari masa kini.

Itulah mengapa dalam penyelenggaraannya FKY 28 mengusung semangat perubahan. Penyelenggaraan yang menyebar di seantero Jogjakarta menjadi keunikan tersendiri. Seperti Loka Karya, Pameran Perupa Muda, Jogja Video Mapping hingga potensi UMKM Jogjakarta.

“Bicara masa depan tentu harus melihat masa kini terlebih dahulu. Apa yang dibangun pada masa kini akan menjadi bekal dimasa mendatang. Nah, kami mencoba menghadirkan wajah-wajah itu,” katanya.

FKY 28 juga merangkul potensi-potensi alam yang ada di Jogjakarta. Seperti pertunjukan Panggung Masa Depan yang berlangsung di Tebing Breksi Prambanan, Sleman, Kamis malam (8/9) lalu. Dalam panggung ini memadukan indahnya alam dengan seni tari dan musik.

Composer kenamaan Singgih Sanjaya dipercaya untuk menggarap music orchestra. Tangan emasnya terlihat dalam musik-musik pengiring seniman tari. Perpaduan ini mengiringi Cakil Squad, Ayu Permata Dance, dan Kinanti Sekar Dance Company.

Animo masyarakat juga terlihat saat penutupan FKY 28. Ribuan pengunjung terlihat memadati hari pamungkas. Gamelan Kiai Kanjeng bersama Cak Nun didapuk menjadi penutup dalam ajang ini. (dwi/ila/ong)