JOGJA – Puncak dinamika pemilihan wali kota (Pilwali) 2017 berbeda dengan lima tahun lalu. Sosok wali kota dan wakil wali kota periode 2017-2022 akan ditentukan detik-detik jelang pendaftaran bakal calon (balon) wali kota dan wakil wali kota 21 September mendatang.

Sebab, komposisi jumlah pasangan bakal calon wali kota dan wakil wali kota nantinya akan menentukan siapa pemenang. Nama Syauqi Soeratno yang telah melalui proses penjaringan di DPP PDIP dan Partai Gerindra bakal menentukan pertarungan perebutan AB 1 A.

Penentuan ini akan terjadi pekan depan. Usai libur Lebaran Kurban, partai politik (parpol) diprediksi sudah mengeluarkan surat rekomendasi, termasuk PDI Perjuanga.

“Minggu depan, saya yakin sudah keluar surat rekomendasinya,” kata Ketua DPP PDI Perjuangan Idham Samawi beberapa waktu lalu.

Anggota DPR RI ini menjelaskan, peluang DPP mengeluarkan surat rekomendasi pekan depan akan membuat kader dan simpatisan memiliki waktu persiapan. Sekaligus untuk menguatkan soliditas partai dalam mengamankan rekomendasi tersebut ke KPU Kota Jogja. “Kalau nama itu sepenuhnya DPP. Sampai sekarang DPP masih menggodoknya,” jelas Idham.

Partai Gerindra yang bakal menentukan komposisi dalam pilwali pun memprediksi hal yang sama. Partai berlambang garuda emas itu, sampai sekarang masih menimbang dua nama Ahmad Syauqi Soeratno dan balon petahana Haryadi Suyuti.

“DPP sudah turun langsung. Tinggal sekarang posisi menunggu. Kami harapkan surat rekomendasi segera turun,” tandas Ketua DPC Partai Gerindra Kota Jogja Anton Prabu Semendawai.

Di internal partai besutan Prabowo Subianto itu terpecah dukungannya pada dua nama yakni Syauqi Soeratno dan Haryadi Suyuti. Perpecahan internal garuda emas inilah yang juga membuat PKS dan PPP belum memberikan keputusan. “Kami diantara kedua nama itu,” kata Ketua DPD PKS Kota Jogja Muhammad Syafii.

Legislator di DPRD Kota Jogja periode 2009-2014 ini mengakui, kemesraan PKS dan Gerindra di tiga Pilkada DIJ 2015 lalu serta Pilpres 2014 silam akan terus berlangsung di pilwali.

Keputusan kedua parpol ini akan menentukan pertarungan. Sebab, jika kedua parpol ini mengusung Syauqi di Pilwali 2017, PPP yang masih menghadapi persoalan dualisme di DPP akan mengikuti koalisi tersebut. Jika skenario ini yang berlangsung, Partai Golkar, PAN, dan PDI Perjuangan bisa saja berubah pikiran.

Lalu seperti apa komposisi peta pertarungan nanti? Komposisi koalisi seperti di Jakarta, yakni PDIP, Golkar, dan PAN bersatu bisa terjadi di Kota Jogja. Apalagi, semua parpol memiliki hasrat yang sama dalam Pilwali 2017 ini. Mereka tetap menargetkan kemenangan untuk mengamankan kekuasaan. “Politik serba mungkin. Bisa jadi nanti petanya kembali seperti 2011, Haryadi dan Imam Priyono bersatu lagi,” kata Peneliti dari Institute for Research and Empowerment (IRE) Sunaji. (eri/ila/ong)