Usung Kearifan Lokal Jadi Kekuatan Bisnis

Jogjakarta terkenal dengan potensi budaya dan wisata. Berbagai upaya dilakukan untuk mengenalkan dan melestarikan kearifan lokal ini. Salah satunya adalah Sugiyanto dengan produk Jogja T-shirt atau lebih dikenal Jethe.
DWI AGUS, Sleman
DUA bis besar terlihat memasuki Jalan Jambon Baturan, Trihanggo, Sleman. Langkah kendaraan besar ini terhenti di sebuah parkiran yang cukup luas. Begitu memasuki parkiran, penumpang bus disapa dengan sebuah tulisan Jogja T-shirt Jethe.

Mereka langsung berduyun-duyun memasuki sebuah gedung. Tak membutuhkan waktu lama, penumpang bus langsung memilih beberapa kaus dengan desain khusus.

Sugiyanto, pemilik toko suvenir kaus ini dengan ramah menyapa pengunjung yang datang. Meski statusnya sebagai pemilik, tapi dia tak segan untuk turun langsung. Pria kelahiran Kebumen, 30 Januari 1970 ini juga mau menemani pengunjung melihat tempat produksinya.

“Kuncinya memang harus ramah kepada semua orang. Meninggalkan kesan baik dan positif dengan mengobrol secara langsung. Itu juga jadi tips berbisnis seperti ini,” ujarnya kepada Radar Jogja ditemui Kamis (8/9).

Bisnis yang dilakoninya ini juga memiliki konsep yang kuat. Terlihat dari desain-desain kaus yang sangat mencirikan Jogjakarta. Sugi, sapaannya memang sengaja memilih konsep kearifan lokal. Menurutnya, bisnis yang bagus adalah yang turut mendukung potensi daerah.

Desain-desain seperti gerobag angkringan, penjual jamu, kesenian hingga wisata Jogjakarta menjadi kekuatan dari Jethe. Tak heran kaus karyanya ini menjadi buruan wisatawan yang menghabiskan waktu di Jogjakarta.

“Temanya menjadi kaus budaya yang ada di Jogjakarta. Semua budaya Jogjakarta menjadi objek desain kaus ini. Jadi kalau dibeli dan dibawa akan menjadi promosi buat ragam kearifan lokal di DIJ,” ujarnya.

Tercetusnya ide ini berawal dari kepeduliannya terhadap potensi DIJ. Meski Sugi tidak lahir di Jogjakarta, tapi dia menganggap kota inilah yang membesarkannya. Terlebih dia sudah hijrah ke kota gudeg sejak 1988 silam.

Awalnya hanya menimba ilmu, tapi ada ketertarikan terhadap kota ini. Mulai dari produk seni, bangunan bersejarah, benda-benda unik hingga ragam kulinernya. Inilah yang semakin meruncingkan ide untuk menggarap konsep kaus Jethe.

Kekuatan lain dari produk ini adalah teknik penggarapan yang dilakukan secara serius. Untuk desain, Sugi benar-benar mengandalkan tim desainnya. Dia berani menjamin, desain-desain ini original dan hanya bisa ditemui di toko kaus miliknya.

“Master-master yang dulu juga masih tersimpan apik di sini. Keindahannya, seakan menjadi saksi dinamika Jogjakarta. Ini karena desain-desain juga mengikuti kultur yang ada di masyarakat,” ujarnya.

Ide ini semakin bertambah pada 2013. Kala itu, Sugi mempertajam desain kausnya pada sektor wisata. Dia dengan berani menobatkan sebagai wisata kaus. Ini karena lengkapnya desain-desain kaus yang ada di tempatnya.

Semakin lengkap dengan gedung tempatnya berjualan dikemas secara terbuka. Pengunjung yang datang bisa langsung melihat proses produksi. Bahkan pengunjung juga bisa menjajal langsung cara membuat kaus secara sederhana.

Sugi mengungkapkan, era saat ini masyarakat semakin aktif. Begitu pula pembeli yang memiliki rasa penasaran tinggi. Rata-rata ingin mengetahui bagaimana proses produksi barang yang dibelinya.

“Saat mereka bisa melihat bahkan membuat sendiri kausnya, ada kesan yang mendalam. Ini sekaligus mengajarkan pentingnya sebuah proses, membuat kaus tidaklah mudah,” katanya.

Sugi tak segan untuk berbagi tips agar sukses melakoni bisnis. Pertama adalah mau berjibaku menemukan ide kreatif, selanjutnya mau mengembangkan diri. Terpenting adalah tidak egois dalam mengambil keuntungan. (ila/ong)