JOGJA – Rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy untuk menerapkan lima hari sekolah menuai penolakan dari sekolah. Terutama sekolah-sekolah swasta yang selama ini menampung siswa dari banyak latar belakang keluarga.

“Bagi siswa kami itu bukan memberikan waktu berkumpul bersama keluarga. Mereka malah memiliki waktu banyak untuk main,” ujar Kepala Sekolah SMA Bopkri 1 Kota Jogja Andar Rujito kemarin (9/9).

Siswa di SMA Bopkri 1, kata Andar, ada yang berasal dari broken home. Jika rencana lima hari sekolah itu malah kontraproduktif bagi mereka. Sebab untuk berlama-lama bersama keluarga, mereka sudah tidak nyaman. “Subtansinya malah tidak dapat,” ujarnya.

Jika harus mengajar lima hari yang berarti proses kegiatan belajar dan mengajar berlangsung sehari full, akan membosankan siswa. Guru harus kreatif untuk mentransfer ilmu ke siswanya. “Kalau hanya ceramah menyampaikan pelajaran, jam dua sampai jam empat siswa sudah pada tidur,” tandasnya.

Salah satu sekolah swasta favorit itu selama ini lebih mengedapankan pendidikan karakter siswanya. Jika dipaksakan untuk melaksanakan sehari atau delapan jam pelajaran di sekolah, hal tersebut malah tak efektif.

“Kami tidak berorientasi untuk prioritas prestasi di akademik. Tapi karakter, 5, 10, dan 20 tahun kemudian setelah lulus baru bisa terasa manfaatnya,” katanya.

Seperti telah diketahui, Mendikbud kembali melemparkan wacana untuk sekolah full day. Tapi kali ini Muhadjir memilih kalimat lima hari sekolah. “Nanti kalau dua hari libur, anak ada kesempatan rekreasi, wisata dan otomatis akan meningkatkan pergerakan wisatawan domestik. Waktu bersama keluarga juga menjadi bertambah,” kata Muhadjir.

Rencana ini masih menuai pro dan kontra dari masyarakat, baik orang tua maupun guru. Dinas Pendidikan (Disdik) selaku kepanjangan Mendikbud di daerah pun belum sepenuhnya mengetahui detail rencana itu. Mereka masih menunggu instruksi selanjutnya dari Mendikbud.

“Kami malah belum tahu. Karena sampai saat ini juga belum ada instruksi apa pun mengenai rencana itu,” jelas Pelaksana Harian (Plh) Kepala Disdik Kota Jogja Budi Asrori Santosa.

Budi mengungkapkan, sebelum rencana itu direalisasikan, tentu akan ada sosialisasi terlebih dahulu. Itu pun tak bisa semua sekolah langsung menerapkan. Meski saat ini sebenarnya sekolah swasta sudah banyak yang menerapkan full day. (eri/laz/ong)