JOGJA-Kemunculan Forum Banteng Tangi: Seru untuk Jogja Baru mendapatkan apresiasi dari DPC PDI Perjuangan Kota Jogja. Struktural partai tersebut menganggap desakan agar Ketua Umum Megawati Soekarno Putri obyektif merupakan aspirasi untuk menentukan rekomendasi.

“Bagi kami selama itu masih dalam bingkai simbol partai sebagai bentuk aspirasi,” tandas Ketua DPC PDIP Danang Rudyatmoko.

Danang menjelaskan, sampai saat ini PDIP belum memberikan rekomendasi. Dia meminta hal tersebut yang harus dipahami bersama.

“Rekomendasi menjadi wewenang dari DPP. Bukan DPC,” tuturnya.

Tudingan penjaringan tertutup yang hanya mengusulkan calon tunggal pun, ia tampik. Sebab, dari beberapa nama yang ada di Forum Banteng Tangi Turu itu, selama ini juga telah mengikuti mekanisme penjaringan di DPD dan DPP.

Danang juga menegaskan, perhitungan kemenangan telah mereka sampaikan ke DPP. Begitu pun dengan DPP PDIP juga telah menurunkan tim survei. Makanya, soal peluang kalah head to head dengan calon petahana lain Haryadi Suyuti, itu tetap masuk perhitungan DPP.

“Pasti kami juga tidak mau kalah lagi. DPP pasti sudah memiliki perhitungan untuk menang 2,5 persen dari perolehan suara lawan,” jelasnya.

Diinternal PDIP, saat ini tengah bergolak. Undangan DPP PDIP bagi Imam Priyono untuk mengikuti sekolah partai tanpa menyertakan kandidat lain ditengarai menjadi penyabab. Kandidat lain seperti Chang Wendriyanto dan KRT Poerbokusumo atau Ndoro Acun mendesak DPP bisa obyektif.

“Yang penting setelah rekomendasi turun semua bersatu untuk memenangkan PDIP,” tegas Danang.

Sebelumnya, Forum Banteng Tangi Turu, mendesak Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri mengambil langkah tegas. Ini untuk menyikapi dinamika pemilihan wali kota (Pilwali) Kota Jogja yang tak demokratis.

“Kami meminta Ibu Ketua Umum untuk turun ke bawah mendengarkan aspirasi kader dan simpatisan PDI Perjuangan,” pinta salah seorang penggagas Forum Banteng Tangi Chang Wendriyanto, saat menyatakan sikap di Ndalem Notoprajan.

Legislator di DPRD Kota Jogja ini menegaskan, pihaknya menyayangkan proses penjaringan di PDI Perjuangan yang tak demokratis. Akibatnya seperti saat ini, posisi partai berlambang Banteng Mencereng sebagai partai peraih kursi terbanyak di Pemilu, seakan tersandera. Tak bisa bergerak untuk menentukan langkah politis.

“Kondisi ini membuat peta koalisi semakin suram. Bisa jadi nanti ujung-ujungnya head to head. Peluang menang pun sangat tipis,”ungkap Chang

Saat ini internal partai berlambang banteng gemuk ini belum mengeluarkan rekomendasi. Proses terakhir, Imam Priyono (IP) yang diundang DPP untuk mengikuti sekolah partai. Nama IP sendiri sejak awal muncul sebagai calon tunggal aspirasi dari DPC PDIP Kota Jogja. Padahal, dalam proses perjalanan tahap penjaringan muncul banyak nama. Diantaranya Chang Wendriyanto, KRT Poerbokusumo, Syauqi Soeratno, dan Arif Nur Cahyo yang kemudian memilih jalur indepeden. Kondisi ini berpeluang mengulang kegagalan PDI Perjuangan pada Pilkada di tiga kabupaten di DIJ.

“Apa PDI Perjuangan hanya akan mendapatkan satu kepala daerah saja di Kabupaten Kulonprogo? Partai ini pemenang pilpres dan pileg,” sambung KRT Poerbokusumo.

Dalam pernyataan sikap ini, hadir tokoh-tokoh senior PDIP. Mereka ini juga perwakilan dari 14 kecamatan dan 45 kelurahan. (eri/dem)