JOGJA-Proses internal penentuan bakal calon wali kota dan wakil wali kota di DPC PDI Perjuangan Kota Jogja mendapatkan perlawanan. Mereka yang mengatasnamakan Forum Banteng Tangi Turu, mendesak Ketua Umum PDI Perjuaangan Megawati Soekarno Putri mengambil langkah tegas. Ini untuk menyikapi dinamika pemilihan wali kota (Pilwali) Kota Jogja yang tak demokratis.

“Kami meminta Ibu Ketua Umum untuk turun ke bawah mendengarkan aspirasi kader dan simpatisan PDI Perjuangan,” tandas salah seorang penggagas Forum Banteng Tangi Chang Wendriyanto, saat menyatakan sikap di Ndalem Notoprajan.

Legislator di DPRD Kota Jogja ini menegaskan, pihaknya menyayangkan proses penjaringan di PDI Perjuangan yang tak demokratis. Akibatnya seperti saat ini, posisi partai berlambang Banteng Mencereng sebagai partai peraih kursi terbanyak di Pemilu, seakan tersandera. Tak bisa bergerak untuk menentukan langkah politis.

“Kondisi ini membuat peta koalisi semakin suram. Bisa jadi nanti ujung-ujungnya head to head. Peluang menang pun sangat tipis,” katanya.

Saat ini internal partai berlambang banteng gemuk ini belum mengeluarkan rekomendasi. Proses terakhir, Imam Priyono (IP) yang diundang DPP untuk mengikuti sekolah partai. Nama IP sendiri sejak awal muncul sebagai calon tunggal aspirasi dari DPC PDIP Kota Jogja.

Padahal, dalam proses perjalanan tahap penjaringan muncul banyak nama. Diantaranya Chang Wendriyanto, KRT Poerbokusumo, Syauqi Soeratno, dan Arif Nur Cahyo yang kemudian memilih jalur indepeden.

Mereka itulah yang menyesalkan mekanisme tertutup di DPC PDI Perjuangan Kota Jogja. Mereka menganalisa, dengan proses tertutup dan komunikasi politik lemah, PDI Pwejuangan bakal dikeroyok pada Pilwali 2017. Kondisi ini berpeluang mengulang kegagalan PDI Perjuangan pada Pilkada di tiga kabupaten di DIJ.

“Apa PDI Perjuangan hanya akan mendapatkan satu kepala daerah saja di Kabupaten Kulonprogo? Partai ini pemenang pilpres dan pileg,” sambung KRT Poerbokusumo.

Kerabat Keraton yang akrab disapa Ndoro Acun ini mengingatkan, simpatisan dan kader PDIP di seluruh Kota Jogja tak mau kembali kalah. Mereka mendesak Ketua Umum Megawati Soekarno Putri untuk mendengarkan aspirasi warga merah.

|Ini tokoh-tokoh senior PDIP menyesalkan kondisi struktural. Kami mendorong ada reformasi di struktur PDIP,” ujarnya.

Sisa waktu kurang dari dua minggu dari pembukaan pendaftaran, kata Acun, cukup untuk melihat secara obyektif aspirasi masyarakat.

“Turunkan tim survei yang independen. Jangan yang abal-abal karena ini demi kebesaran partai,” tegasnya.

Dalam pernyataan sikap ini, hadir tokoh-tokoh senior PDIP. Mereka ini juga perwakilan dari 14 kecamatan dan 45 kelurahan. (eri/dem)