SLEMAN-DIJ terdapat reaktor nuklir aktif milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di kawasan Babasari, Caturtunggal, Depok, Sleman. Bila terjadi kegagalan teknologi, diperlukan penanganan khusus terhadap bencana nuklir. Gambaran penanganan kegagalan bencana teknologi nuklir terlihat dalam simulasi yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ di Babarsari, yang sempat menutup jalan di depan kantor .

Berbeda dengan bencana-bencana lainnya, dalam penanganan bencana teknologi nuklir, penanganannya tidak bisa dilakukan secepat penanganan bencana biasa. Butuh proses cukup panjang dalam untuk mengevakuasi korban hingga dibawa ke rumah sakit. Saat korban berjatuhan, tim medis tidak bisa begitu saja serta merta menangani korban.

“Tim proteksi radiasi harus memastikan kondisi benar-benar aman dulu,” kata Kepala Unit PSTA BATAN Aris Bastianudin disela-sela kegiatan.

Setelah radiasi dinyatakan aman , barulah tim medis bisa mengambil korban. Tim penyelamat yang memasuki daerah inti radiasi wajib menggunakan kostum khusus pelindung radiasi bernama coverall. Pelindung radiasi ini layaknya pakaian astronot luar angkasa.

Korban yang dibawa tim medis, terlebih dahulu dibawa penyeterilan dari radiasi. Mereka dimandikan disemprot dengan cairan khusus untuk menyeterilkan radiasi baru kemudian dibawa ke rumah sakit. Tidak hanya korban, para penyelemat dan kendaaraan seperti kendaraan taktis gegana yang terlibat dalam evakuasi pun wajib disterilkan.

“Radiasi nuklir berlebih memiliki efek merugikan bagi kesehatan,” tuturnya.

Aris menerangkan di BATAN sendiri reaktor nuklir yang dimiliki hanya memiliki daya 100 kilowatt. Besaran tersebut, sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan masyarakat. Sebab bila benar-benar terjadi kegagalan, radiasinya pun tidak sampai lebih dari 100 meter.

“Apalagi reaktor nuklir di DIJ hanya untuk kepentingan penelitian,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD DIJ Krido Suprayitno menjelaskan, sekitar 500 personel dikerahkan dalam simulasi penanggulangan bencana kegagalan teknologi.

“Ini baru pertama kalinya dilaksanakan di Indonesia,” jelasnya.

Dia menyebut, meski Batan telah memiliki prosedur tersendiri dalam penanganan bencana nuklir, sinergitas antar lini tetap harus diperlukan. Apalagi bila kegagalan teknologi itu penyebabnya dari luar seperti aksi terorisme. (bhn/dem)