Perkuat Pendidikan Karakter, Mantapkan Konsep Dakwah Kultural

Untuk kali pertama Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIJ menggelar Olimpiade Budaya Jawa kemarin (10/9). Kegiatan ini diawali dengan Pawai Taaruf Budaya Jawa yang diikuti 87 kontingen dari sekolah-sekolah Muhammadiyah di DIJ.
VITA WAHYU-HERU PRATOMO, Jogja
KEGIATAN yang didukung Badan Koordinasi Sekolah/Madrasah DIJ ini bertujuan untuk pendidikan ka-rakter dan jati diri para peserta didik. Ini karena di masa sekarang ini lebih memilih mengikuti arus budaya asing daripada budayanya sendiri. Kemajuan teknologi saat ini men-jadi salah satu faktor para remaja, khususnya pelajar, menyerap budaya asing itu secara mentah-mentah
Alhasil, mereka menghilangkan rasa memiliki identitas budaya-nya sendiri. Muhammadiyah melalui amal usaha pendidikan ingin ikut mengapreasiasi berbagai kegia-tan yang berupaya melestarikan dan mengembangkan budaya. Dalam hal ini adalah budaya Jawa yang sarat akan nilai-nilai luhur (adiluhung).

Dasar dari pemikiran itu sesuai dengan keputusan sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 2012 di Denpasar yang menetapkan kon-sep “Dakwah Kultural”.Menurut Ketua Majelis Dikdasmen Arief Budi Raharjo mengatakan, kegiatan ini merupa-kan ajang untuk mengasah kreativitas siswa. Sekaligus sebagai media untuk meningkat-kan tali silahturahmi para siswa-siswi Muhammudiyah di DIJ.

Pawai yang menyuguhkan kreativitas para siswa di bidang seni dan budaya ini memulai rute dari Balai Kota Timoho sam-pai Alun-Alun Utara Keraton Jogja Warga sekitar pun menunjuk-kan antusiasnya untuk menyak-sikan pawai ini di sepanjang jalan yang dijadikan rute utama. Meski aparat sudah menggunakan sistem buka-tutup untuk kendaraan yang melintas, usaha itu tidak dapat mengurangi kemacetan.

Banyaknya peserta pawai Taaruf Budaya Jawa ini juga mem-buat tiap rombongan harus sabar antre. Bahkan ketika rom-bongan pertama sudah sampai Alun-Alun Utara, masih ada rombongan yang belum dibe-rangkatkan dari depan rumah dinas Wali Kota Jogja.

“Wah iki buntute (rombongan terakhir) bisa pukul 16.00 baru berangkat,” ujar Wali Kota Haryadi Suyuti (HS) seusai melepas rombongan sekitar pukul 13.00.

HS meminta ke depan pawai yang juga memperingati Milad ke-107 Muhammadiyah ini bisa dikemas lebih baik lagi. Ia mengatakan pawai taaruf itu harusnya bisa menjadi tontonan sekaligus tuntunan. Termasuk kegiatan Muhammadiyah, yang selama ini juga bagian dari me-lestarikan budaya.

“Di sekolah Muhammadiyah ada pencak silat, drum band, sekarang ditambah Olimpiade Budaya Jawa yang menjadi ba-gian dari upaya melestarikan budaya,” ujarnya.

HS menilai pawai taaruf ini bisa menjadi agenda tahunan. Menjadi hiburan yang bisa di-jual untuk menarik wisatawan datang ke DIJ. Lokasinya bisa bergantian di seluruh kabupaten dan kota di DIJ. Meski untuk melaksanakanya, suami Tri Kirana Muslidatun itu berharap ada kesesuaian jadwal. Hal itu karena adanya per bedaan penanggalan kalender Hijriyah dan Masehi.

Menurut HS, jika sudah ditetapkan sejak jauh hari, bisa ikut dipromosikan sebagai agenda wisata DIJ.

“Dicocokkan jadwalnya dulu, kalender Hijriyah dan Masehi kan beda. Sekarang jatuh September tahun depan bisa Agustus,” tuturnya.

Sementara itu Wakil Ketua PWM DIJ Tasman Hamami mengata-kan pawai taaruf dan juga kegiatan Olimpiade Budaya Jawa merupakan ajang silaturahmi keluarga besar pendidikan Muhammadiyah. Juga sesuai tu-juan pendidikan yaitu untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara, bersikap dan berperilaku cinta tanah air dan kebudayaan bangsa.

“Budaya bangsa, khususnya budaya Jawa ini juga bisa dipraktikkan di se-kolah dan madrasah Muham-madiyah,” pintanya.

Olimpiade Budaya Jawa ini akan dilanjutkan dengan ber-bagai lomba budaya pada tanggal 19-22 September 2016 di beberapa sekolah Muhammadiyah di DIJ. Lomba yang diadakan antara lain, cerdas cermat budaya Jawa, mocopat, geguri-tan, karawitan, dagelan Mataram, tari Jawa, dolanan egrang, dan lain sebagainya. (laz/ong)