JOGJA – Penggunaan pelat rekayasa dan operasional taksi online mendapatkan per hatian dari Dinas Perhubungan (Dishub) dan Polda DIJ. Kemarin siang (14/9), petugas gabungan dari kedua instansi tersebut merazia sejumlah mobil dan taksi
Kepala Sub Direktorat Bidang Penegakkan Hukum Polda DIJ AKBP Heru Setiawan menjelas-kan, penggunaan pelat palsu termasuk pelanggaran.

Seperti mobil Honda HRV berwarna putih yang dikemudikan seorang perempuan tengah baya. Mobil tersebut menggunakan pelat rekayasa menjadi AB 12 IILY.

Kemudian, oleh petugas, pengendara diberhentikan dan diarahkan untuk masuk ke Gedung DPRD DIJ. Di kantor wakil rakyat ini petugas memeriksa dan menanyakan pelat asli. Ternyata, pengendara juga menyimpan pelat asli dengan nomor AB 1211 LY.

“Tetap ditilang. Karena tidak menggunakan pelat asli. Petugas meminta pemilik langsung mengganti dengan pelat asli,” tandas Heru di sela razia kemarin.

Tak hanya mobil tersebut, razia ini juga mampu menjaring belasan mobil dengan pelat nomor cantik dengan rekayasa agar bisa terbaca.

“Bukan nomor cantiknya. Tapi, pelat nomornya yang direkayasa itu yang melanggar,” katanya.

Penggunaan pelat nomor ini sebenarnya telah diatur dalam UU No 22 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Itu diatur di Pasal 68 yang berbunyi “kendaraan bermotor wajib menggunakan tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB) yang memenuhi syarat bentuk, ukuran, bahan, warna, dan cara pemasangan.

“Razia ini juga menyasar bebe-rapa taksi yang melintas. Me-reka diperiksa terkait dua hal. Pertama, oleh Dinas Perhubungan yang berkaitan dengan izin trayek habis dan tak ada kartu pengawas. Sedangkan, kepolisian menindak SIM pengemudi yang sudah kedaluwarsa.

“Banyak kami temukan pelang-garan oleh pengemudi taksi. Kami langsung beri surat tilang karena sudah berulangkali di-beri peringatan, saat ini sudah penindakan,” tandas Kepala Kantor Pengendalian Lalu Lin-tas Angkutan Jalan (LLAJ) Dishub DIJ Sumariyoto.

Hasil razia taksi ini, petugas gabungan berhasil menemukan dua pengemudi taksi online. Mereka mendapatkan tilang karena tak mengantongi izin trayek angkutan umum.

Sementara sebelas pengemudi taksi lainnya juga ditilang karena ditemukan pelanggaran. “Banyak pelanggarannya, mu-lai uji KIR yang sudah habis tapi belum diperpanjang, SIM mati, dan mobil yang dipergunakan justru dari luar DIJ, seperti ber-pelat R, AA, dan lainnya,” katanya.

Operasi ini rencananya tak hanya sekali. Sumariyoto memastikan, pihaknya akan mengefektifkan razia semacam ini agar masyara-kat terutama pengguna mobil bisa tertib. “Selama taksi online mengantongi izin, tetap diperbo-lehkan,” jaminnya. (eri/ila/ong)