BANTUL – Tarif parkir mahal destinasi wisata di Kabupaten Bantul menjadi masalah serius. Ternyata bukan hanya juru parkir (jukir) nakal di Pantai Parangtritis dan Parangkusumo yang memasang tarif mahal.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Cemoro Sewu juga ikut-ikutan. Hal itu diakui Sekretaris Pokdarwis Pantai Cemoro Sewu Darman. “Karena di sana (Parangtritis dan Parangkusumo) tarifnya segitu,” dalihnya kemarin (14/9).

Kendati demikian, setelah mendengar rencana pemkab yang akan membangun kawasan parkir tandingan bertarif resmi, Darman mengaku tidak keberatan.

Sebagaimana diketahui, tarif parkir mobil di dua destinasi unggulan tersebut dipatok Rp 10 ribu, sedangkan sepeda motor Rp 4 ribu. Bahkan, mobil mewah bisa dijerat dengan tarif antara Rp 25 ribu – Rp 50 ribu. Padahal, merujuk Peraturan Daerah Bantul Nomor 9 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha, tarif parkir mobil seharusnya Rp 4 ribu dan sepeda motor Rp 2 ribu.

Maraknya jukir ilegal di kawasan pantai selatan sudah diketahui Dinas Perhubungan (Dishub) setempat. Bahkan, Dishub mencatat hanya ada 12 jukir berizin di Parangtritis dan Parangkusumo. Padahal, jukir di dua destinasi tersebut mencapai puluhan orang. Namun, hingga kemarin belum ada tindakan nyata untuk penertiban.

Kasi Manajemen Rekayasa Lalu Lintas Dishub Bantul Sebastian Freitas mengklaim, jukir berizin tak mungkin mematok tarif tinggi. Hanya, diakui ada kemungkinan jukir legal memasang tarif dua kali lipat dari ketentuan perda. Artinya, tarif sepeda motor maksimal Rp 4 ribu dan mobil Rp 8 ribu. Menurutnya, hal tersebut merupakan ambang batas toleransi yang diketahui oleh Dishub. “Kalau melanggar mereka kami tegur atau dicabut izinnya,” tegas Sebastian.

Pada bagian lain, Kepala Dishub Suwito mengakui keberadaan jukir tersebut merugikan wisatawan, sekaligus pendapatan asli daerah (PAD). Baginya, menata parkir ilegal bukan perkara mudah. Bukan hanya di Parangtritis maupun Parangkusumo.

“Yang jelas (penataan parkir di pantai selatan) harus melalui kajian terlebih dahulu,” dalihnya.Karena itu dibutuhkan langkah taktis.

Suwito memperkirakan grand desain penataan parkir yang menjadi acuan Dishub mirip dengan pilot project yang digulirkan Disbudpar, Satpol PP, dan Dishub. Tiga institusi tersebut berencana membangun area parkir tandingan di sekitar Cepuri Parangkusumo. Itu bertujuan untuk ‘memerangi’ mahalnya tarif parkir yang dipatok jukir di kawasan Pantai Parangtritis dan Parangkusumo.

“Kajian ini akan kami usulkan maksimal akhir 2017. Agar 2018 bisa beroperasi,” ucapnya.

Suwito menyiapkan dua opsi pengelolaan area parkir Cepuri. Dikelola sendiri atau diserahkan kepada pihak ketiga.

Suwito optimistis, rencana tersebut mampu mengikis mahalnya tarif parkir di objek pariwisata. Sehingga wisatawan merasa nyaman, sedangkan pemkab memeroleh PAD.(zam/yog/mg2)