JOGJA – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ mewanti-wanti seluruh distributor dan pedagang besar farmasi (PBF) agar disiplin dalam mengurus perizinan dan kelengkapan administrasi. Sebelum mendistribusikan obat ke konsumen.

Ditegaskan, obat ilegal berpotensi mengancam kesehatan masyarakat. Seperti, 77 ribu kemasan obat ilegal milik PT Cobra Dental Indonesia yang disimpan di gudang di Jalan Intan Sinduadi Mlati Sleman. Obat tersebut disita, Rabu (14/9) karena tak berizin.

Kasi Pelayanan Informasi Konsumen Soesie Istyorini menegaskan, PT Cobra Dental Indonesia telah menyalahi aturan karena mengedarkan produk sebelum mendapatkan izin dari pemerintah. Produknya juga termasuk ilegal. “Bila dilihat dari daftar obat, belum ada pengajuan apapun,” ungkapnya kemarin (15/9).

Izin peredaran obat hanya bisa dilakukan di Badan POM Pusat Jakarta. BBPOM DIJ hanya membantu tata cara perizinan serta pemeriksaan sarana dan prasarana.

Soesie menyangkal keterangan pihak distributor yang berdalih perizinan sedang dalam proses. Terlebih, distributor hanya mengantongi izin untuk alat kesehatan. Bukan obat-obatan. Karena itu, BBPOM berencana memusnahkan semua hasil sitaan senilai Rp 660 juta, yang sebagian besar diimpor dari Meksiko itu.

Dikatakan, hasil sitaan tersebut merupakan temuan terbesar di Jogjakarta. Itu dilihat berdasarkan skala kewilayahan. Menurutnya, obat-obat ilegal sering ditemukan di sentra industri, seperti Serang, Banten atau Cilacap, Jawa Tengah. “Di DIJ hanya ada satu pabrik obat yang terdaftar,” katanya.

Lebih lanjut, Soesie mengatakan, pihaknya sedang menyelidiki area edar obat-obat ilegal tersebut. Dia berjanji sesegera mungkin mengumumkan wilayah edar obat tersebut demi keamanan konsumen. (bhn/yog/mg2)