KULONRPROGO – Tim Geoheritage UPN Veteran Jogja memantau gua bekas tambang mangaan di Pedukuhan Ngruno, Desa Karangsari, Kecamatan Pengasih, kemarin (15/9). Kendati berupa bekas galian, gua bekas tambang itu bisa dijadikan objek wisata minat khusus.

“Namun masih membutuhkan penyesuaian agar layak dijadikan objek wisata baru,” kata Tim Geoheritage UPN Jogja, Bambang Prastito.

Gua sepanjang 160 meter itu harus ditutup dahulu hingga ada kajian lebih lanjut. Sejumlah lokasi juga harus disesuaikan karena adanya retakan alam yang bisa membahayakan pengunjung.

Jika dijadikan objek wisata, aspek keselamatan harus diutamakan. Gua tersebut memiliki percabangan dan area vertikal sedalam 20 meter dan cukup menarik. Blower udara juga dibutuhkan supaya sirkulasi oksigen lancar.

“Kalau masuk gua maksimal lima orang dengan durasi 10 menit. Jika dikembangkan menjadi objek wisata faktor itu harus dipertimbangkan,” kata Bambang.

Anggota tim lainnya Ahmad Subadriyo mengatakan lebih baik jika pengembangan Gua Ngruno dikelola masyarakat setempat. Karena jika dikelola pihak ketiga, warga hanya akan menjadi penonton.

Secara gelologi, usia batuan diperkirakan sudah berusia 22 hingga 33 juta tahun. Sedangkan penambangan mangaan diperkirakan sudah dilakukan sejak 1917.

Pengembangan wisata minat khusus lebih baik dibanding mengaktifkan kembali proses tambang mangaan. Sebab, mangaan kurang menguntungkan.

Kulonprogo sempat dikenal sebagai penghasil mangaan. Salah satunya di Pedukuhan Kliripan, Desa Hargorejo, Kokap. Tambang Mangaan juga ada di Tasikmalaya dan Banten. “Kami sarankan agar gua ini dijadikan cagar budaya,” kata Ahmad.

Warga setempat bersemangat menjadikan gua itu objek wisata. Rencana ini diselaraskan dengan potensi agrowisata kebun kelengkeng yang berada tidak jauh dari gua. (tom/iwa/mg2)