MAGELANG – Nasib nahas menimpa Mardi,65 saat pasar burung Kota Magelang terbakar pada Rabu (14/9) malam. Kakek renta tanpa sanak saudara itu setiap hari tidur di pasar. Kemarin (15/9) pagi, Mardi ditemukan tewas terpanggang di dalam salah satu kios. Kasus tersebut kini masih dalam penyelidikan Polres Magelang Kota.

Terbakarnya pasar burung di Jalan Ikhlas, Kampung Barakan, Magersari tentu saja meninggalkan luka mendalam bagi para pedagang. Jumair, 90, salah satunya. Seluruh dagangannya ludes terlalap api, berikut kios semi permanen berbahan kayu. Semuanya menjadi arang dan abu. “Modal dan dagangan habis semua,” keluh penjual rokok dan minuman kemasan itu.

Nenek yang hidup sebatang kara itu kini tak tahu harus mengadu kepada siapa. Dia tak lagi punya keluarga. Suaminya meninggal dunia 30 tahun silam karena penyakit yang diderita. “Saya tak punya anak. Selama ini tinggal di rumah saudara di Magersari,” jelasnya.

Perasaan Jumair semakin miris setelah mengetahui uang tabungannya yang disimpan di dalam kios turut terbakar. Nilainya Rp 2,5 juta. Jerih payahnya selama delapan bulan sirna tak berbuih asa. Padahal, uang tersebut sengaja disisihkan untuk berjaga-jaga jika ada kebutuhan mendadak. Supaya dia tak perlu berutang kepada orang lain. “Susah payah saya kumpulkan uang itu sejak Januari,” tuturnya dengan suara lirih.

Tak banyak yang bisa dilakukan Jumair sekarang, selain minta belas kasihan dari Pemkot Magelang. Dia butuh uluran tangan untuk membangun kembali usaha kecilnya. “Saya bersyukur kalau ada yang mengusahakan bantuan,” ujarnya.

Kapolres Magelang Kota AKBP Edi Purwanto mengatakan, guna memastikan penyebab kebakaran pihaknya berencana mendatangkan tim laboratorium forensik untuk menyelidiki tempat kejadian perkara (TKP). Kapolres enggan berspekulasi adanya informasi bahwa penyebab kebakaran berasal dari api lilin. “Belum bisa dipastikan. Kami akan mendalami kasus ini hingga tuntas,” ujarnya.

Edi menegaskan, pengungkapan perkara tetap didasarkan pada olah TKP dan investigasi yang dilakukan tim Polsek Magelang Selatan. Kendati demikian, semua informasi yang berhasil diperoleh ditampung untuk pengembangan penyelidikan. “Disengaja atau tidak, perkara ini harus diselidiki. Apalagi telah mengakibatkan kerugian. Bahkan, menimbulkan korban jiwa,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Magelang Joko Budiyono menjelaskan, pasar burung terdiri atas 22 kios. Dari jumlah itu, 16 diantaranya terbakar. Tiap kios berukuran 2×3 meter persegi. Pasar tersebut merupakan tempat relokasi para pedagang yang sebelumnya menempati area depan kantor DPP. Pada 2015 DPP melakukan penataan. Para pedagang dipindah ke lokasi di sisi utara lahan milik pemkot itu.

Joko mengaku belum ada rencana tindak lanjut dalam menyikapi peristiwa kebakaran. “Kami masih menunggu hasil investigasi polisi dan arahan khusus dari pak wali kota,” katanya.

Kendati demikian, Joko akan mendata ulang para pedagang yang menjadi korban kebakaran. Sambil menunggu instruksi selanjutnya dari pejabat berwenang. (ady/yog/mg1)