KULONPROGO – Keinginan Pemkab Kulonprogo menyamakan waktu ground breaking New Yogyakarta International Airport (NYIA) dengan Hari Jadi Kulonprogo 15 Oktober 2016 sulit terwujud. Karena masih banyak masalah yang harus diselesaikan.

Masalah tersebut di antaranya pengosongan lahan. Persoalan lainnya, tuntutan kompensasi penggarap lahan PAG yang belum rampung. Selain itu soal kesiapan tanah relokasi juga menjadi kendala.

“Rumah dan pekarangan saya memang sudah mendapat ganti rugi. Namun kalau diminta mengosongkan dalam jangka waktu satu bulan saya menolak. Saya belum punya tempat tinggal pengganti, simbok saya masih di sana,” kata Supriyanta, warga Palihan.

Supriyanta berharap Angkasa Pura (AP) I bisa memahami kondisi warga yang tergusur. Mereka membutuhkan rumah tinggal baru. Sementara relokasi masih dibicarakan antara pemkab dan AP I.

Kabag Pemerintahan Pemkab Heriyanta mengatakan masalah relokasi masih dibahas. Terutama soal harga tanah kas desa untuk relokasi harganya terlalu mahal. Warga minta harganya diturunkan.

Sekda Kulonprogo Astungkoro menyatakan, harga tanah relokasi menjadi ranah tim apraisal independen. Harga appraisal itu menjadi patokan atau landasan pemkab bersikap. ‘’Kalau pemkab mengubah harganya, justru menjadi masalah hukum,” kata Astungkoro.

Kabag Humas dan TI Kulonprogo Ariadi menambahkan, pemkab ingin proses peletakan batu pertama bandara dibarengkan Hari Jadi Kulonprogo 15 Oktober 2016. “Kami inginnya seperti itu. Kalau (ground breaking) di lahan pemukiman belum bisa, dulu Pak Hasto (bupati) berpendapat (ground breaking) bisa dilakukan di lahan PAG,” kata Ariadi.

Namun itu tentu bukan perkara mudah, karena masalah PAG juga belum selesai. Dua lokasi di tanah PAG yang direncanakan untuk peletakan batu pertama dinilai kurang representatif, terlalu jauh dari jalan raya.

Manajer lapangan proyek pembangunan NYIA Bambang Eko menyebutkan, pihaknya kini tengah memikirkan ground breaking. Rencananya, yang datang Presiden Jokowi.

“Pak Jokowi kan kritis dan progresif. Biasanya setelah melakukan peletakan batu pertama, akan ditanyakan kelanjutannya secara periodik. Jadi memang perlu perencanaan yang benar-benar mantap, kami sedang susun itu,” katanya.

Sebelumnya, Pimpro Pembangunan Bandara NYIA R Sujiastono mengatakan untuk relokasi prosesnya satu tahun. Sampai relokasi siap, warga yang memilih relokasi dan masih menetap di area bandara akan disewakan atau dikontrakkan saat proses pembangunan fisik dimulai. (tom/iwa/mg1)