Arus globalisasi dan kapitalisme kian meresahkan masyarakat. Pembangunan mal-mal makin mencekik leher pedagang pasar tradisional. Keresehan ini ditangkap seorang Khocil Birawa. Dia mengungkapkan unek-uneknya melalui pentas monolog bertajuk “Genderuwo Pasar Anyar”.
VITA WAHYU-DWI AGUS, Jogja
Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bergema. Riuh rendah tawa penonton, dengan sesekali aplaus, menjadi bagian yang mewarnai sebuah pementasan monolog, Kamis (15/9) malam. Saat itu, Khocil Birowo menjadi pusat perhatian. Meskipun dia tak sendirian di atas panggung. Dua perempuan cantik mengawalnya menuju panggung. Seniman teater itu lantas memulai monolognya, seiring kursi-kursi warna merah di tribun penonton yang semakin penuh oleh pengunjung.

Publik Jogjakarta mengenal Khocil lebih sebagai kuli tinta. Dia seorang jurnalis sebuah surat kabar terkemuka di Kota Jogja. Profesi itulah yang membuat kepekaannya terhadap kehidupan sosial kian terasah. Selama 36 tahun Khocil menggeluti dunia teater. Namun, seiring kesibukannya menjalani rutinitas pers membuat pria kelahiran Jogjakarta 5 Januari 1959 ini lebih banyak berada di luar panggung.

“Sudah lama sekali saya tidak naik panggung seperti malam ini. Ada perasaan deg-deg-an tapi juga bersemangat ingin manggung lagi. Dilakon ini saya berperan menjadi Murwat, sang penjaga pasar,” ujarnya. Murwat dikisahkan sebagai tukang sapu Pasar Kliwon yang mengalami kebakaran pada suatu malam. Meski selamat dari amuk api, Murwat dituding sebagai biang penyebab kebakaran.

Kali ini Khocil tampil membawakan naskah karya Indra Tranggono. Dipilihnya naskah Genderuwo Pasar Anyar karena memiliki makna tersendiri baginya. Naskah itu menurutnya mampu menggambarkan carut marut kondisi sosial masyarakat saat ini. Dimana orang lebih tergila-gila pada budaya kapitalisme dan globalisasi. Sehingga melupakan tradisi.

Naskah hasil riset Indra Tranggono selama dua tahun itu menggambarkan begitu derasnya gempuran toko-toko dan pasar modern, sehingga menggusur pasar tradisional. “Ini tentu menjadi pukulan telak bagi para pedagang pasar tradisional,” jelasnya.

Melalui pementasan ini, Khocil ingin mengangkat kisah getir di balik pasar tradisional. Genderuwo yang dihadirkan merupakan simbol kapitalisme. Dimana tidak semua orang bisa melawan arus ini untuk masuk dan merasuk.

Keangkuhan genderuwo digambarkan dalam sebuah adegan monolog. Setengah berteriak, Khocil berkata bahwa seorang rakyat kecil hingga presiden tidak bisa melawan genderuwo ini. Semuanya hanya bisa melihat dan pasrah melihat genderuwo menjajah pasar tradisional. “Naskah ini tentu masih sangat relevan dengan keadaan saat ini. Banyak kisah-kisah haru dimana pedagang tradisional harus gulung tikar. Seorang Murwat harus rela menjadi kambing hitam dan dipenjara karena permasalahan ini,” katanya. Sementara, tak lama setelah kebakaran pasar, kawasan itu berubah menjadi pusat perbelanjaan modern berbentuk plaza.

Simbol yang dihadirkan dalam pentas monolog ini sebenarnya terjadi hampir di setiap daerah di Indonesia. Saat ini warga lebih memilih berbelanja di pasar modern. Persaingan juga semakin tidak sehat, karena pasar modern yang lebih bersih dan rapi dibangun berdekatan dengan pasar tradisional.

Disisi lain Khocil menceritakan betapa indahnya pasar tradisional. Pembeli dan pedagang terlihat harmonis karena saling menyapa. Menurutnya tawar menawar merupakan interaksi yang menyenangkan dan membangun keguyuban.

“Kadang orang datang ke pasar tradisional tidak hanya sekadar berbelanja. Ada yang datang untuk mengobrol dengan pedagang, hingga terjadi interaksi yang menarik. Jadi ada nilai-nilai menarik saat melakoni transaksi di pasar tradisional,” ujarnya.

Untuk pementasan, Khocil tidak bekerja sendiri. Bersama para sahabatnya dari Komunitas Sobat Lama, Khocil mempersiapkan pertunjukan ini lebih dari 3 bulan. Selain Indra Tranggono, Khocil juga melibatkan nama-nama lainnya. Toelis Semero, Nano Asmorodono, dan Anes Prabu, di antaranya.

Seting panggung ditata layaknya pasar tradisional. Sekelompok musisi juga berada di panggung untuk mengiringi pementasan. Uniknya para musisi ini juga turut berperan dengan melemparkan ragam celotehan ditujukan pada Khocil.

Memasuki pementasan, sang sutradara Toelis Semero membagi menjadi beberapa fragmen. Diawal-awal kemunculan Murwat, dikemas secara humor. Perlahan memasuki inti pementasan, naskah yang diusung lebih serius dan mendalam.

“Khocil memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Keresahan ini dia kemas melalui monolog. Ini juga membuktikan seorang Khocil masih mendalami dunia jari dirinya sebagai seorang teater,” Toelis.

Sang pimpinan produksi, Anes Prabu sangat apresiatif terhadap penampilan Khocil. Meski selama ini Khocil lebih banyak berada di belakang layar, tapi tetap totalitas dalam bidang seni teater. Beberapa kali Anes juga membujuk Khocil mau terjun kembali di dunia panggung yang membesarkan dirinya. “Proses keseriusannya ini yang akhirnya mencapai pada estetika yang kreatif dan penuh energi,” tambahnya. (yog/mg1)