AKSESORIS etnik selalu menarik dan menjadi daya tarik. Begitu pula dengan aksesori berbahan tenun asal Nusa Tenggara Timur (NTT). Seperti karya yang diusung oleh Mila Mariana Wulandari dengan menggunakan kombinasi tenun NTT, goni, dan kanvas. Kecintaannya terhadap kain NTT diwujudkan dalam karya kerajinan tangan yang dibuatnya, berupa tas dan kalung. Agar makin menarik, dikombinasikan dengan kain tradisional lainnya, seperti lurik dan batik.

“Mulai mengembangkan produk kerajinan sejak 2014 silam. Fokus pada aksesori seperti kalung dan tas dengan nama Morisdiak,” ujar perempuan asal Cilacap, Jawa Tengah ini.

Mila, sapaannya, mengungkapkan, kecintaannya terhadap kain tenun NTT bermula ketika dia bekerja sebagai aktivis di Atambua. Dalam kegiatannya, dia sering bertemu dengan perajin kain tenun. Dari situlah dia akhirnya tertarik.

“Tenun itu macamnya banyak, ada tenun ikat atau futus, ada juga tenun lotis atau sotis dengan motif yang timbul seperti sulam. Sangat cantik dan menarik,” ungkapnya ibu dua putri ini ditemui, kemarin (17/9).

Mila menuturkan untuk tas, memang tidak semuanya menggunakan kain tenun NTT. Itu dilakukan dengan pertimbangan estetik. Terlebih, lanjutnya, tenun NTT cocok dikombinasikan dengan kain apa saja. Bahkan dengan kain goni dan kanvas sekalipun.

“Untuk tas model tote bag saya coba kombinasikan dengan goni, hasilnya juga bagus,” ungkap perempuan yang menjual karyanya ke beberapa butik di Jogja ini.

Terkait nama Morisdiak yang digunakan, Mila mengungkapkan, bahwa nama itu merupakan harapan. Morisdiak berasal dari bahasa Tetun yang dipakai oleh masyarakat di Kabupaten Belu, Malaka, dan sebagian Timor Tengah Selatan yang berbatasan dengan Timor Leste. “Moris artinya baik, sedangkan Diak artinya baik dan indah. Jadi itu semacam harapan hidup yang baik dan indah,” tutupnya ditemui saat Pasar Ekspresi di Sanggar Anak Alam, Nitiprayan. (ila/mg1)