TAS handmade menjadi andalan bagi Wahidatul Arifah, 23, dan Nur Endah Pratiwi, 22. Dengan desain yang simpel, justru menjadi daya tarik bagi produk tas buatan mereka.

Berawal dari melihat foto-foto produk pencil case 1,5 tahun yang lalu, menjadi awal mula dua mahasiswi UNY ini menggeluti bisnis tas handmade.

Mulai dari alat jahit yang difasilitasi kedua orang tua mereka, mereka mulai belajar secara otodidak. Mengulik bagaimana cara menjahit hingga pemilihan bahan baku yang baik dan kuat. Kendati mereka masih belajar di bangku kuliah, tidak menyurutkan keinginan mereka untuk berkreasi hingga saat ini.

Tas yang mereka jual adalah tas yang banyak diminati para perempuan, khususnya mahasiswi di Jogjakarta. Desain dan model yang simpel namun unik membuat mereka sering kebanjiran order. Tak jarang mereka ikut beberapa pameran yang membuat tas buatan mereka laris manis.

Kini mereka bisa menambah uang jajan dari usaha kecil mereka yang dilabeli Beautiffa tersebut. Dua sahabat ini mengaku dalam menjalankan bisnis tersebut masih sering menemui beberapa kendala. Salah satunya jam perkuliahan yang baru selesai sore atau malam hari, sehingga membuat mereka kelelahan ketika harus mengerjakan orderan.

“Tapi kami terus berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik untuk para konsumen. Ada waktu senggang sedikit kami langsung mengerjakan proses produksi,” ungkap Tiwi, mahasiswi yang mengambil jurusan PGSD tersebut.

Saat ini mereka hanya menjual tas-tas handmade melalui Instagram dan pameran-pameran yang sering diadakan di mal. Mereka mengaku omzet yang didapat dari bisnis tersebut terbilang lumayan. “Bisnis ini cukup menjanjikan, banyak peminatnya,” ujar Tiwi.

Mengetahui banyaknya persaingan tas handmade di Jogja, mereka sudah mempunyai jurus sendiri dalam memproduksi tas buatannya. Mereka membuat tas dengan desain dan model yang tidak sama dengan produk lain. Artinya, mereka harus pintar-pintar mengulik model apa yang sedang diminati saat ini. Serta memadupadankan dengan ide mereka melalui warna dan motif bahan tas tersebut.

Harapannya, kedua mahasiswi ini ingin mengembangkan bisnisnya lebih luas lagi. Dukungan yang diberikan kedua orang tua menjadi semangat mereka untuk lebih maju. “Syaratnya bisnis ini tidak boleh mengganggu kuliah kami saat ini,” jelas Arifah. (cr1/ila/mg2)