SLEMAN – Masih seringnya terjadi aksi kekerasan dan tawuran pelajar memunculkan spekulasi atas efektivitas program Tekab yang dicanangkan Kapolda DIJ Brigjen Pol Prasta Wahyu Hidayat.

Program yang oleh masyarakat dikenal dengan istilah Tim Khusus Antibandit belum terbukti ampuh mengikis marahnya tawuran pelajar. Buktinya, penganiayaan melimpa pelajar masih terjadi.

Seperti dialami Budi Setiawan, yang saat kejadian, Sabtu (17/9) sore mengenakan kaos bertuliskan “Stemsa”, sebutan untuk SMKN 2 Jogja.

Saat melintas di depan pom bensin Jalan Gito-Gati, Ngaglik, dia diserang oleh sekelompok pelajar menggunakan senjata tajam. “Kejadian itu sekitar pukul 16.30,” ujar Kapolsek Ngaglik Kompol Riyanto kemarin (18/9).

Peristiwa tersebut persis seminggu aksi kekerasan oleh sekelompok suporter bola yang merusak toko di Jalan Kaliurang.

Sebagaimana ulah para suporter tersebut, kawanan pelajar yang membawa gir merusak sepeda motor yang ditinggal lari pemiliknya di tempat kejadian perkara (TKP). Karena kalah jumlah, korban memang tidak melakukan perlawanan.

Menurut kapolsek, korban mendadak diserang ketika berpapasan dengan rombongan pelajar lain yang mengendarai empat sepeda motor. “Kasus ini masih kami selidiki. Motifnya belum jelas,” lanjut Riyanto. (bhn/mg1)