BANTUL- Tradisi kembul bujono warga Kampung Sabrang, Plumbungan, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Sabtu (17/9) berlangsung meriah. Namun, tanpa menghilangkan nuansa sakralnya. Warga berbondong-bondong mengikuti merti desa tak sekadar sebagai ungkapan rasa syukur. Tradisi ini menjadi simbol hidupnya pluralisme. Hidup dalam kebersamaan tanpa sekat, suku, ras, dan agama.

Warga berkumpul di salah satu lapangan tengah kampung. Tak satupun penduduk melewatkan hari bersejarah di kampung berpenduduk 250 jiwa ini. Mereka mengikuti doa bersama, yang dipungkasi dengan makan bersama.

Sebelum disantap, makanan berupa nasi gurih dan ingkung ayam dalam porsi besar ini didoai terlebih dahulu oleh para pemuka agama. Pluralisme tampak kental dengan kehadiran tiga pemuka agama. Secara bergantian, pemuka agama Islam, Katholik, dan Kristen memimpin doa. Sesuai dengan keyakinan masing-masing. Ritual ini adalah kali pertama kembul bujono, yang dipimpin tiga pemuka agama. “Memang ada tiga agama yang hidup di kampung Sabrang,” kata ketua panitia merti dusun dan hari jadi ke-146 Kampung Sabrang Wahyu Hermanto di sela acara.

Sebelum kembul bujono, ada satu rangkaian acara yang dihelat Sabtu siang itu. Yaitu, kirab budaya.

Kirab juga mencerminkan hidupnya toleransi beragama di Kampung Sabrang. Para tokoh lintas agama tampak kompak dan guyub berada dalam satu kelompok peserta kirab. Pemuka agama Katholik dengan pakaian khasnya berada di barisan paling depan. Di samping mereka pemuka agama Kristen. Di belakang kedua pemuka agama ini tampak barisan tokoh Islam yang mengenakan sarung, peci, dan bersurban.

Wahyu mengatakan, sedikitnya jumlah warga Kampung Sabrang membawa keuntungan tersendiri. Seluruh warga kompak. Satu sama lain saling menghormati pilihan beragama masing-masing. “Di sini hanya ada satu RT dengan sekitar 90 kepala keluarga,” jelasnya.

Bahkan, saling berbagi makanan maupun kue ritual keagamaan bukan hal tabu. Tak jarang warga yang menganut agama Islam memberikan makanan upacara tujuh hari atau 40 hari kematian kepada kaum Nasrani. Begitu pula sebaliknya. “Jika Natalan mereka juga memberikan bingkisan atau makanan kepada teman-teman muslim,”lanjut Wahyu.

Lebih dari itu, keberhasilan peringatan hari jadi juga tak lepas dari kekompakan warga. Mereka iuran demi penyelenggaraan merti desa. “Ada yang menyumbang Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta. Disesuaikan kelas sosialnya,” jelas Yogia Wirawan, sekretaris panitia.

Yogia menegaskan, seluruh warga komitmen menyelenggarakan tradisi merti dusun pada tahun depan. Diharapkan, tradisi ini bisa menjadi perekat kerukunan antarumat beragama di kampung Sabrang. (zam/yog/mg1)