Nguri-uri kabudayan Jawa. Itulah tujuan pelaksanaan Olimpiade Budaya Jawa yang diadakan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIJ. Hari pertama kemarin (19/9) digelar lomba Dagelan Mataram dan Macapat.
VITA WAHYU HARYANTI, Jogja
GELAK TAWA terdengar sayup-sayup dari salah satu ruangan di SMA Muhammadiyah 1 Jogjakarta. Dua tiga anak sedang berada di atas pentas. Mereka membawa mic dan berdialog dengan Bahasa Jawa. Tak jarang obrolan mereka di atas panggung itu menggundang senyum dewan juri. Ya, saat itu salah satu siswa-siswa sekolah Muhammadiyah di DIJ sedang mengikuti lomba Dagelan Mataram.

Panitia lomba Marwata HN mengatakan, lomba Dagelan Mataram ini diikuti oleh 16 kelompok tingkat SMP dan SMA. Mereka menampilkan lawakan-lawakan ala Basiyo, maestronya Dagelan Mataram.

Selain lomba dagelan, juga ada Macapat untuk tingkat SD yang diikuti 16 peserta, tingkat SMP 30 perserta, dan SMA sebanyak 27 peserta. “Seluruh peserta adalah siswa-siswi perwakilan dari kabupaten-kabupaten di DIJ,” ujarnya.

Kegiatan yang bekerja sama dengan Badan Koordinasi Sekolah/Madrasah Daerah Istimewa Jogjakarta ini bertujuan membentuk pendidikan karakter dan jati diri peserta didik. Terlebih, di masa sekarang ini anak-anak muda lebih memilih mengikuti arus budaya asing daripada budayanya sendiri, dalam hal ini adalah budaya jawa. “Makanya kami ingin mengenalkan kembali budaya Jawa lewat kegiatan ini,” ujarnya.

Didaulat sebagai dewan juri, Yu Beruk mengatakan, tujuan kegiatan ini sudah bagus, tinggal penerapannya saja yang harus disesuaikan dengan kemampuan siswa yang masih belum mengetahui tentang seluk beluk Dagelan Mataram tersebut.

Dia mengungkapkan, dewan juri mempunyai kriteria khusus untuk memilih siapa pemenangnya. Seperti teknik panggung, intonasi, dan penampilan peserta menjadi kunci utama untuk meloloskan beberapa peserta menjadi pemenang.

Yu Beruk menambahkan, peserta yang memerankan Dagelan Mataram harus bisa menjalankan tugas para sutradara dengan baik. “Adu tempo antarpemain harus diperhatikan termasuk intonasi dalam dialog juga harus jelas,” jelasnya.

Menurutnya, dari banyaknya peserta yang mengikuti lomba Dagelan Mataram menunjukkan sudah ada bibit-bibit yang tertarik dengan budaya Jawa. “Ini bagus, di tengah banyaknya generasi muda yang mulai tidak peduli dengan budaya sendiri karena terpengaruh modernisasi,” ungkapnya.

Salah satu peserta perwakilan dari SMK Muhammadiyah Ngawen, Adit Setya Budi mengatakan, kegiatan ini merupakan tantangan baru untuknya. Berdialog di atas panggung bersama pemain lainnya menjadi pengalaman baru. Adit bersama keempat kawannya mengusung lakon Lusan. Dengan durasi waktu 10 hingga 15 menit, mereka berhasil membuat penonton dan dewan juri tertawa dengan peran mereka.

Guru sekaligus sutradara SMK Muhammadiyah Ngawen Dra Hj Marzunani mengungkapkan apresiasinya terhadap anak didiknya yang berhasil memerankan karakter dalam cerita Lusan tersebut. “Harapannya di tahun depan mereka dapat mengikuti lomba semacam ini dengan tujuan menumbuhkan rasa cinta siswa-siswi terhadap budaya Jawa,” ungkapnya. (ila/mg1)