Tidak Ada Kado Manis, Inginkan Seperti Enam Tahun Lalu

Angka 49 tahun, adalah usia yang cukup tua untuk sebuah klub sepak bola. Laskar Sultan Agung-julukan Persiba Bantul sudah merasakan manis pahitnya perjalanan. Bagaimana kondisi sekarang ?
RIZAL SETYO NUGROHO, Bantul
SAYANGNYA tidak ada kado manis tahun ini untuk klub yang bermarkas di Stadion Sultan Agung (SSA) ini. Yang ada segunung permasalahan dan karut-marutnya kondisi internal klub. Mulai dari merosotnya prestasi, kondisi keuangan yang minus sehingga menunggak gaji pemain.

Dan yang teranyar adalah terancam terlunta-luntanya klub lantaran tanpa home base. Ya, Persiba Bantul diminta angkat kaki dari mess Persiba di Jalan Bantul, Pendowoharjo Sewon karena sewa yang telah habis.

Keadaan ini cukup miris. Sebab enam tahun lalu, tepatnya di musim 2010-2011, Laskar Sultan Agung pernah menjejakkan kakinya di percaturan sepakbola nasional. Yakni dengan promosi ke kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia. Hal yang sulit dilakukan oleh saudaranya sesama tim DIJ PSS Sleman dan PSIM Jogja.

Namun, sekarang kondisi berbalik. Saat Persiba Bantul terpuruk dan gagal lolos ke 16 besar ISC-B, justru kedua tim tersebut bernasib lebih baik. Mewakili Jogjakarta di perdelapan final ISC-B.

Sekretaris Persiba Heri Fahamsyah mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan merosotnya animo suporter untuk mendukung Laskar Sultan Agung. Ia menuding, konflik berkepanjangan PSSI menurutnya ikut mempengaruhi kondisi Persiba. Selain juga konflik suporter beberapa waktu lalu. “Penonton jadi enggan ke stadion,” katanya.

Karena itu dia berharap, setelah sanksi pembekuan PSSI dicabut, kompetisi kembali bergeliat dan berjalan reguler. Sebab jika kompetisi jelas bergulir, dan klub bisa kembali berprestasi, penonton juga akan kembali berbondong-bondong ke stadion. “Animo berbanding dengan prestasi. Kalau sudah normal, mendapat sponsor dan bisa mendatangkan pemain bagus, perlahan animo penonton akan naik,” ujarnya.

Pelatih Persiba Bantul Sajuri Syahid mengharapkan, seiring bertambahnya umur, Persiba bisa lebih bijak dalam menghadapi permasalahan. “Kalau ada kesulitan bisa dirembuk bersama. Lebih bijak ketika menghadapi kesulitan. Semoga pristasinya lebih baik dengan pemain hasil kompetisi lokal,” tuturnya.

Dari perwakilan suporter, Lurah Paserbumi Rumawan mengatakan, di momen ulang tahun ini bisa menjadi refleksi bersama. Semua pihak menurutnya perlu duduk bersama untuk menentukan nasib Persiba Bantul ke depannya. “Manajemen harus berbenah, tidak bisa Persiba seperti ini terus. Pemain dan pelatih evaluasi. Pemkab dan masyarakat juga harus lebih perhatian,” katanya.

Kemudian yang paling mendesak adalah mengenai mess Persiba. Setelah menggelar aksi dan menemui anggota DPRD Bantul, pihaknya meminta agar ada yang menjembatani antara manajemen, pemkab dan suporter untuk duduk bersama. Sebab menurutnya, Persiba adalah milik seluruh warga Bantul. Jadi semua perlu gotong-royong untuk memikirkan bersama nasibnya.

“Karena seperti yang kita lihat. Sepertinya sulit sekali untuk duduk bersama. Padahal kalau Persiba diminta pindah sementara belum ada tempat tujuan tetap, di situ kan banyak aset Persiba yang sangat berharga, takutnya kalau nanti rusak,” paparnya.(din/jiong)