GUNUNGKIDUL – Lima kecamatan di Gunungkidul mengalami krisis air bersih. Warga pun meminta Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Gunungkidul melakukan droping air.

“Permintaan droping air mengalami peningkatan. Permintaan droping air bersih dalam sehari rata-rata 30 tangki,” kata Kepala Bidang Sosial Dinsosnakertrans Gunungkidul Suyatmiyatun (16/9).

Lima kecamatan yang mengalami krisis air bersih tersebut, Ngawen, Rongkop, Girisubo, Tepus dan Panggang. “Untuk anggaran droping air yang dikeluarkan belum sampai Rp 50 juta,” ujar Suyatmiyatun.

Dia mengimbau warga berkomunikasi dengan pemerintah setempat. Pengiriman air segera direspons dinsosnakertrans jika prosedur permohonan bantuan melalui desa sudah dilakukan. “Karena kalau bantuan dalam bentuk perorangan tidak bisa dilakukan,” kata Suyatmiyatun.

Kepala Dinsosnakertrans Gunungkidul Dwi Warna Widi Nugraha menegaskan, anggaran droping air tahun ini masih cukup. Dari total dana sekitar Rp 650 juta, belum ada separo yang terserap.

“Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, dana dapat digunakan sesuai peruntukannya,” kata Dwi.

Dia menduga, fenomena kemarau basah berimbas pada kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih. Kemungkinan besar tahun ini sudah tidak ada lagi tambahan anggaran droping.

Camat Rongkop Asis Budiarto mengatakan kebutuhan air bersih bagi warganya sangat mendesak. Kecamatan sudah melakukan droping, namun belum menjangkau seluruh wilayah.

“Kemampuan kecamatan hanya lima tangki sehari. Maka kami minta bantuan droping air dari pemkab untuk dicukupi,” kata Asis. (gun/iwa/jiong)