SLEMAN – “Kembali ke Laptop”. Ungkapan yang menjadi identitas pelawak kondang Tukul Arwana itu menjadi meme yang kerap diungkapkan pengunjung Taman Kuliner, Condongcatur, Depok, Sleman.

Bagaimana tidak, selama sepuluh tahun beroperasi, kondisi pusat jajan yang semula difungsikan untuk menampung pedagang kaki lima (PKL) tersebut mengalami mati suri. Keramaian pengunjung hanya terjadi ketika ada acara. Seperti saat gelaran Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) awal September lalu. Warga Sleman dan sekitarnya tumplek blek di Taman Kuliner.

Sebanyak 80 kios dan 40 restoran yang dibangun Pemkab Sleman juga tampak beroperasi. Namun, suasana taman di belakang Terminal Condongcatur itu kembali hening seiring berakhirnya FKY. Lomba burung yang rutin digelar tiga kali per minggu tetap tak mampu mendongkrak tingkat kunjungan Taman Kuliner.

Dari pengamatan Radar Jogja, pemilik kios yang membuka lapak tak lebih dari hitungan jari tangan. “Tidak begitu ramai jika dibandingkan saat FKY. Pengunjung lomba burung tertentu saja,” ungkap Siti Aisyah, pemilik kios R1 kemarin (13/9).

Perempuan paruh paya itu lantas mengungkapkan perbandingan omzet yang diperoleh pada hari biasa dengan saat FKY. Siti mengaku, saat FKY bisa memeroleh omzet hingga Rp 1,5 juta per hari. Sedangkan pada hari biasa tak pernah lebih Rp 300 ribu.

Karena itu, Siti berharap pemkab lebih gencar menggenjot promosi. Sebab, sepengetahuannya masih banyak warga tak mengenal Taman Kuliner. Informasi itu diperoleh dari beberapa konsumennya. “Saya sering tanya ke pengunjung FKY yang mampir ke kios. Ternyata banyak yang belum tahu keberadaan tempat ini,” bebernya.

Senada diungkapkan Dwi, pemilik kios R4. Pedagang relokasi Selokan Mataram penjaja kuliner itu merasakan ketimpangan pendapatan saat FKY dan hari biasa. “Kalau ada FKY melonjak drastic,” ungkap penjaja kuliner yang menghuni Taman Kuliner sejak 2003. Menurut Dwi, hanya FKY benar-benar memberikan dampak ekonomi cukup besar bagi pedagang.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono mengatakan, FKY memang dihadirkan sebagai bentuk promosi, sekaligus pengembangan potensi lokal. Selain mewadahi para seniman, Umar berharap lokasi yang dipakai untuk FKY ikut terimbas pada peningkatan ekonomi.

“Taman Kuliner memiliki fasilitas lengkap. Tinggal membangun sinergitas antardinas untuk memusatkan beberapa kegiatan di tempat itu,” ujarnya. (dwi/yog/jiong)