JOGJA – Peningkatan jumlah wisatawan yang mengunjungi DIJ ternyata tak berbanding lurus terhadap polling penghargaan Anugerah Pesona Indonesia 2016. Masuk tiga kategori yaitu Hidangan Terpopuler untuk Gudeg Jogja, Festival Budaya Terpopuler yakni Sekaten, dan Goa Jomblang untuk Destinasi Baru Terpopuler, tak satu pun yang mengantarkan DIJ menjadi pemenang.

Padahal Anugerah Pesona Indonesia yang kali pertama digelar ini semuanya bergantung dari polling. Artinya, masyarakat yang menentukan tingkat popularitasnya. “Ini menjadi ajang evaluasi pengelolaan pariwisata di DIJ,” ujar Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIJ Sudiyanto kemarin (21/9).

Ketiga daya tarik wisatawan itu, lanjut Udi, sapaanya, sebenarnya sudah sangat terkenal di Indonesia dan mancanegara. Tapi, popularitasnya tersebut ternyata malah tak sebanding dengan daya tarik daerah lain. “Ini penting untuk menjadi pembelajaran bersama. Bisa saja branding yang telah dilakukan selama ini lemah,” katanya.

Kualitas branding dan standar pariwisata di DIJ yang sampai sampai saat ini belum ada. Ia menduga menjadi penyebab kegagalan DIJ menyabet satu pun penghargaan itu. “Meski angka kunjungan wisatawan domestik mencapai tiga juta, mancanegara 300 ribu, itu semua kerja dari swasta,” jelasnya.

Pelaku wisata di DIJ sudah sangat menjamur. Dari jumlah yang ratusan itulah yang kemudian membuat promosi di luar DIJ begitu massif. Tapi hal tersebut tanpa disertai branding yang berkualitas dan penyesuaian semua objek wisata sesuai standar.

“Kami juga heran. Jogja ini menjadi tujuan utama wisata di Pulau Jawa. Tidak afdol ke Pulau Jawa jika tidak ke DIJ,” jelasnya.

Proses penilaian Penghargaan Anugerah Pesona Indonesia dilakukan dengan polling melalui situs ayojalanjalan.com. Proses votingnya dilakukan sejak periode sejak 23 Mei 2016 sampai 23 Agustus 2016.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Aris Riyanta menegaskan, tak satu pun penghargaan yang diraih, itu tidak menutup pintu kedatangan wisatawan ke DIJ. Sebab, selama ini wisatawan yang datang ke DIJ tak hanya menikmati destinasi di daerah istimewa ini. “Ikut satu paket dengan Jawa Tengah,” tandasnya.

Kondisi itu yang diduga membuat masyarakat yang akan berkunjung ke DIJ menjadi bingung. Apalagi, tujuan wisatawan selama ini ke Candi Prambanan dan Candi Borobudur. “Itu sudah menjadi heritage internasional. Saya kira semua mengakui itu,” katanya.

Tapi, bagi Dispar DIJ, kegagalan menyabet penghargaan itu bakal menjadi evaluasi tersendiri. Dispar akan mengajak seluruh pelaku pariwisata untuk bisa menggarap semua potensi dengan sebaik-baiknya. “Buat wisatawan yang sudah berkunjung itu nyaman. Mereka tidak kapok untuk datang lagi ke Jogja,” ujarnya. (eri/laz/ong)