SLEMAN – Polres Sleman meringkus enam anggota geng pelajar pelaku penganiayaan terhadap enam siswa SMAN 1 Cangkringan di kawasan Pakembinangun, Pakem, Sleman, Selasa (20/9) malam. Enam pelaku geng pelajar yang menamakan diri Cangkringan Side yang berhasil diringkus yakni DF, SC, MAN, EA, IG, dan P.

Mereka diamankan dengan barang bukti berupa benda tajam berupa celurit, katana, kapak, dan gir motor yang telah dimodifikasi. Dari informasi yang dihimpun, peristiwa bermula saat ratusan kelompok pelajar SMKN 1 Cangkringan pulang ke sekolah mereka setelah mengikuti turnamen futsal yang digelar di Gor Pangukan Sleman. Sesampainya di depan PKU Muhammadiyah Pakem, rombongan berpapasan dengan lima pengendara sepeda motor yang membawa berbagai senjata tajam.

Seketika itu juga, rombongan Cangkringan Side mengayunkan senjata mereka ke rombongan pelajar SMAN 1 Cangkringan yang bergerombol. Sabetan benta tajam mengenai sejumlah pelajar.

Mendapatkan perlawan, para pelaku berlari ke arah barat. Namun selang beberapa lama, kejadian serupa terjadi di Rumah Makan Sekar Aji Sembungan Wukirsari dengan para pelaku yang sama.

Akibat peristiwa tersebut, enam orang pelajar terkena sabetan senjata tajam mengalami luka-luka. Dua di antaranya kini mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Panti Nugroho.

Kapolres Sleman AKBP Yulianto mengatakan, aksi pembacokan dilatarbelakangi balas dendam. Pengakuan dari pelaku yang rata-rata berusia 16 tahun ini, mereka pernah menjadi korban kekerasan dari sekelompok pelajar.

“Aksi dilakukan terencana dan korban-korbannya sudah ditentukan,” jelas Yulianto dalam keterangannya, kemarin (21/9).

Mereka yang menjadi korban adalah Setiawan Nugroho, Ahmad Komaru, Catur Aryanto, Maryadi, Noval Widyanurhalim, dan Ahmad Imam. Mereka yang mendapatkan perawatan rata-rata mengalami luka bacok di punggung.

Yang bikin mengelus dada, ujar Yulianto, salah satu dari pelaku meminta izin kepada orang tua sebelum melakukan aksi kekerasan. Ketika itu tidak ada tindakan dari orang tua untuk melaporkan ke pihak yang berwajib atas perilaku anaknya.

“Para pelaku berasal dari berbagai sekolah yang ada di kawasan Pakem dan Cangkringan,” jelasnya.

Selain enam orang yang berhasil diamankan, Polres Sleman juga masih mengantongi beberapa nama yang juga diduga terlibat dalam aksi penganiayaan. “Mereka terancam pasal berlapis 354 KHUP tentang Penganiayaan, pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan, dan undang-undang darurat karena membawa senjata tajam,” jelasnya.

Penangkapan geng pelajar oleh jajaran Polres Sleman ini mendapat perhatian dari Kapolda DIJ Brigjen Pol Prasta Wahyu Hidayat. Kapolda bersama jajarannya menyempatkan diri menyambangi Polres Sleman untuk bertemu langsung dengan pelaku.

Di hadapan keenam pelaku, tampak kegeraman wajah Prasta. Dengan nada tinggi, Prasta menasehati keenam pelaku yang masih pelajar tersebut. “Kalau bergerombol kalian sok jago, tapi kalau di kantor polisi kenapa nunduk-nunduk seperti ini,” ujarnya.

Bahkan, seorang pelaku terisak kala mendapatkan nasehat dari kapolda. Mata para pelaku memerah dan berkaca-kaca. “Saya meminta kepada orang tua yang anaknya menjadi pelaku aksi kekerasaan ini untuk segera menyerahkan diri ke kami,” jelasnya.

Prasta mengimbau kepada orang tua dan sekolah agar melakukan pengawasan ketat terhadap anak-anaknya. Dia menyayangkan bila masa depan anak tercoreng dengan tindak kejahatan. “Ayolah orang tua dan sekolah jaga anak-anak kalian,” imbaunya.

Sementara itu, terkait peristiwa kekerasan tersebut, kapolres segera menghentikan penyelenggaraan pertandingan futsal yang telah berlangsung beberapa hari ini. Melihat potensi kerawanan, Polsek Sleman mencabut izin keramaian penyelenggaraan futsal sampai waktu yang tidak ditentukan. “Untuk tahun depan, izin kegiatan turnamen ini akan kami evaluasi kembali,” tegasnya. (bhn/ila/ong)