SLEMAN – Sebagian wilayah Sleman masih sering dilanda kekeringan. Kurang meratanya pembagian jatah air saluran irigasi menjadi salah satu penyebabnya. Karena itu, dalam kesempatan bertatap muta dengan perkumpulan petani pemakai air (P3A) Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengingatkan pentingnya saling berbagi. Tak kalah penting, Muslimatun mengimbau masyarakat penghuni kawasan hulu selalu menjaga ekosistem air. Hal itu guna menjamin ketercukupan kebutuhan air di bagian hilir.

“Irigasi itu tidak bisa dimonopoli satu orang atau perkumpulan saja. Harus berbagi dengan petani yang berada di kota dan hilir. Jika bagian hulu terjaga, manfaatnya akan dirasakan hingga hilir,” ujarnya di sela sarasehan bersama anggota P3A di Gedung Serba Guna Sleman kemarin (21/9).

Muslimatun berharap, kawasan utara Sleman dijaga sebagai area konservasi demi kelestarian sumber mata air.

Untuk kepentingan itu, pemkab mengeluarkan Peraturan Bupati No 43 Tahun 2015. Inti dari peraturan ini, menjaga ketersediaan air melalui gerakan air bersih. Wajib dilaksanakan melalui perencanaan, pengelolaan, pemantauan, konservasi, hingga pengendalian daya rusak air.

“Saya sangat mendukung gerakan irigasi bersih yang dicanangkan bulan ini. Kebutuhan akan air menjadi tanggung jawab bersama. Masyarakat semua elemen libatkan secara langsung sebagai agen menjaga kelestarian air,” katanya.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman Sapto Winarno menambahkan perlunya langkah serius menggarap irigasi. “Tidak hanya sekadar menutup saluran. Tapi, perlu ada koordinasi antar petani di sepanjang aliran,” ujarnya.

Sungai juga harus ditangani berdasarkan kelasnya. Seusai dengan Peraturan Gubernur DIJ No 22 Tahun 2007 tentang Penetapan Kelas Air Sungai di DIJ. Sungai dan irigasi kawasan Sleman digolongkan sebagai kelas 1.

“Sungai kelas 1 bisa dimanfaatkan sebagai air baku minum dengan peruntukan mutu air yang sama. Jadi kebersihan sungai di Sleman sangat mutlak. Melihat peran memenuhi kebutuhan bagi seluruh masyarakat,” paparnya.

Sayangnya berdasarkan pengamatan beberapa titik belum memenuhi standar baku mutu air. Uji kualitas air sungai dilakukan di 60 titik pemantauan. Beberapa diantaranya adalah sungai besar seperti kawasan Boyong, Code, Gajahwong, Bedog, Opak, dan Progo.

Kesadaran warga untuk menjaga kebersihan sungai perlu ditingkatkan. Sebab, saat ini masih ada warga yang membuang sampah di sungai. Bahkan, tak sedikit industri rumah tangga membuang limbah sembarangan ke aliran sungai. (dwi/yog/ong)