PURWOREJO -Tebing setinggi 30 meter longsor dan menutup akses jalan di Desa Watuduwur, Bruno, Purworejo, Sabtu (19/9) dini hari. Satu dusun itu harus terisolasi selama tiga hari dari pusat pemerintahan desa.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, longsor dipicu hujan deras sejak Jumat (18/9) sore. Tidak jauh dari lokasi, sebuah jembatan juga dalam kondisi kritis karena bagian pondasinya tergerus air.

“Satu dusun yakni Dusun Giwangan di Desa Watuduwur harus terisolasi karena material tanah menutup jalan rabat hampir 20 meter,” kata relawan bencana Kecamatan Bruno Tri Raharjo kemarin (21/9).

Dikatakan, pembersihan jalan baru dilakukan sejak Minggu (20/9) oleh warga dengan bergotong royong. Sulitnya medan tidak memungkinkan alat berat diturunkan ke lokasi. “Warga yang dikerahkan membersihkan material longsor. Kami menyarankan dilakukan gotong royong dan bergantian menurut RW,” tambah Tri.

Banyaknya material longsor menjadikan proses pembersihan berjalan agak lamban. Jalan baru bisa dibuka di hari ketiga kemarin. Hanya kendaraan roda dua dan empat berukuran kecil yang diperkenankan melalui jalan itu.

“Biasanya truk bisa, tapi karena jembatannya juga kritis sementara waktu, jalan itu hanya untuk kendaraan kecil saja,” tambahnya.

Pihaknya telah melaporkan kejadian itu ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo. Dari pihak BPBD diharapkan ada bantuan untuk penanganan darurat jembatan.

Terpisah, Plt Kabid Kegawatdaruratan dan Logistik BPBD Purworejo Sigit Ahmad Basuki membenarkan jika pihaknya tidak mengirimkan alat berat ke lokasi, karena beratnya medan. Langkah warga melakukan pembersihan memang diutamakan.

“Selain tidak memungkinkan mencapai lokasi, ini juga untuk menggiatkan kesadaran warga akan arti pentingnya gotong royong. Permintaan penanganan jembatan akan ditindaklanjuti dengan pemasangan pengaman bronjong. Kebetulan sekarang sedang kosong dan di akhir bulan baru ada,” kata Sigit. Pihaknya tidak akan menunda penanganan jika seluruh alat yang dibutukan tersedia. (udi/laz/ong)