SLEMAN – Warga di Desa Banyuraden, Gamping, Sleman memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam tanaman obat keluarga (toga). Hampir di setiap pekarangan rumah terdapat tanaman obat. Ini sekaligus langkah mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri.

Tak heran jika akhirnya Desa Banyuraden lolos sebagai wakil DIJ dalam pemanfaatan toga di tingkat nasional. Dalam kesempatan ini, Kabupaten Sleman akan bersaing dengan tiga kabupten lain dari luar Pulau Jawa. Yakni Kabupaten Lampung Timur, Lampung, Indragiri Hulu, Riau; dan Kabupaten Bualemo, Gorontalo.

Toga di Desa Banyuraden berada di Dusun Modinan dan Dusun Geplakan. “Toga sebenarnya merupakan kampanye kesehatan yang sudah lama dilakukan. Sayangnya tidak semua warga memahami pentingnya toga. Di dua dusun ini, kami melihat warganya benar-benar peduli pemanfaatan tanaman obat,” kata Ketua Tim Penilai Pusat dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Meinarwati Apt, MKes, kemarin (22/9).

Penilaian oleh tim pusat dilakukan secara langsung. Mereka melihat pekarangan hingga pengolahan produk lanjutan. Dalam kesempatan ini Meinarwati berpesan agar masyarakat dapat memanfaatkan tanaman obat.

Di satu sisi, dia juga menegaskan agar pengolahan harus sesuai standar. Apalagi jika beberapa produk mulai dipasarkan di masyarakat luas. Sementara untuk pemanfaatan keluarga harus benar-benar mengenal ragam dan manfaat dari setiap tanaman obat.

“Untuk pemasaran produk pengolahan harus sesuai dengan izin dan terdaftar ke dinas kesehatan,” ujar perempuan yang sehari-hari menjabat direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI ini.

Verifikasi lapangan ini merupakan tindak lanjut dari verifikasi dokumen. Verifikasi ini sekaligus menyeleksi empat besar menjadi tiga terbaik di tingkat nasional.

Bupati Sleman Sri Purnomo mengapresiasi prestasi tim PKK Banyuraden. Ke depannya Desa Banyuraden dapat menjadi role model bagi desa lainnya. Agar upaya menjaga kesehatan dari lingkungan keluarga jauh lebih penting dilakukan.

“Ini upaya yang sangat bagus memanfaatkan lahan dengan optimal. Sekecil apapun bisa dimanfaatkan sehingga tidak ada lahan tidur. Apalagi manfaatnya dapat langsung dirasakan sendiri,” ujarnya.

Selama berada di Desa Banyuraden, tampak sejumlah pejabat Dinas Kesehatan DIJ dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman ikut menyambut tim penilai dari Jakarta. Di antaranya tampak Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan DIJ drg Inni Hikmatin MKes dan Kepala Bidang Keseharan Masyarakat Dinas Kesehatan Sleman dr Bambang Suharjono. (dwi/ila/ong)