Retno Memadukan dengan Buah dan Rempah
MARAKNYA masyarakat yang sadar gaya hidup sehat membuat peminat dan penggemar minuman fermentasi seperti kombucha semakin banyak. Melihat hal itu Retno Wulandari, 43, memilih berbisnis dengan memproduksi kombucha tersebut setahun belakangan ini.

Sebelum menengok bisnisnya, ada baiknya mengetahui apa sebetulnya kombucha itu. Menurut Retno, sapaannya, kombucha merupakan minuman hasil fermentasi teh manis yang sudah dipercaya sebagai obat sejak 220 sebelum masehi. Minuman ini dikenal saat Dinasti Tsin di Tiongkok.

Pada zaman dahulu tabib bernama Kombucha menemukan minuman fermentasi ini, yang kemudian diberikan kepada kaisar sebagai salah satu obat saluran pencernaan yang mujarab. Kombucha sangat baik untuk sistem pencernaan dalam tubuh karena mengandung bakteri baik atau mikroorganisme yang akan melawan racun maupun bakteri jahat di dalamnya.

Saat ditemui di rumahnya kemarin (23/9), Retno menjelaskan, bagaimana proses pembuatan kombucha tersebut. Sebelum melakukan proses awal, Retno harus mempunyai bibit jamur terlebih dahulu. Bibit ini biasa disebut scoby (symbiotic culture of bacteria and yeasts). Scoby ini berfungsi untuk menangkap mikroorganisme di udara yang kemudian difermentasikan bersama larutan teh dan gula sebagai makanan mikroorganisme tersebut.

Bibit yang dimasukkan ke dalam toples besar berbentuk tabung berbahan gelas ini kemudian dimasukkan teh manis dan ditutup menggunakan kain selama 14 sampai 21 hari. Mikroorganisme yang merupakan makhluk hidup di dalam toples itu harus jauh dari kotoran atau kuman yang akan membuat fermentasi gagal.

Menurut Retno, proses untuk membuat kombucha ini dibagi menjadi dua bagian. Proses awal adalah memfermentasikan teh manis menjadi kombucha. Proses kedua adalah mengombinasikan kombucha dengan rempah mapun buah-buahan.

Selama setahun ini, Retno membuat kombucha yang berbeda dengan yang lain. Kombucha yang dia jual tidak hanya berupa teh asam berwarna kuning kecokelatan saja. Dia menambahkan rempah dan buah-buahan ke dalamnya. Biasanya dia menambahkan buah naga sebagai pewarna alami kombucha.

Dalam pembuatannya, Retno sangat memperhatikan komposisi bahan-bahan kombucha tersebut. Seperti kadar air, oksigen, dan kelembaban udara yang sangat mempengaruhi rasa kombucha. Untuk air, Retno menggunakan air sulingan khusus dari mesin yang menghilangkan kadar logam di dalamnya.

“Benar-benar harus steril, penyaringan air teh juga tidak bisa sembarangan,” ungkapnya.

Menurutnya, rasa kombucha juga sangat dipengaruhi oleh mood pembuatnya. Retno harus memastikan mood-nya saat membuat kombucha sehingga menghasilkan cita rasa yang pas dan enak. “Sebab yang sedang saya proses tersebut merupakan makhluk hidup yang mempunyai keterkaitan terhadap pembuatnya,” terangnya.

Kombucha buatan Retno ini dapat bertahan hingga empat bulan penyimpanan. “Bagi yang ingin mencoba membuatnya di rumah, bisa saja dengan bahan-bahan yang sudah saya jelaskan tadi,” ungkapnya. (cr1/ila/mg1)