Bagi warga asli Kota Jogja, pasti kenal sosok petugas pemungut pajak rumah tangga (PPPRT) ini. Dengan membawa kendang, dia keliling kampung menyanyikan lagu-lagu kocak. Dia adalah seorang seniman jalanan yang konsisten berkarya demi hidup hingga saat ini.

DWI AGUS, Jogja
SOSOK Sujud Sutrisno atau Sujud Kendang dikenal sebagai musisi jalanan yang konsisten selama puluhan tahun. Alih-alih disebut pengamen, pria sepuh ini lebih senang dipanggil PPPRT.

Konsistensi dan kesetiaan inilah yang menarik perhatian para perupa Jogjakarta. Total 27 perupa unjuk karya di Bentara Budaya Jogjakarta. Bertajuk Mbarang Jantur, pameran ini merupakan wujud apresiasi dan penghargaan kepada Sujud Kendang.

“Tema ini kami haturkan untuk menghormati seniman Sujud, yang hampir seumur hidupnya diabdikan pada seni ngamen. Dia bisa menjadi panutan bagi semua orang bagaimana berjuang untuk hidup melalui seni,” kata kurator Dr Gabriel Possenti Sindhunata, S.J akhir pekan kemarin.

Pria yang akrab disapa Romo Sindhu ini menuturkan, semangat ngamen Sujud sangat istimewa. Dia melihat Sujud mewujudkan ngamen sebagai bentuk seni. Ini terlihat dari cara Sujud yang mampu menciptakan suasana seni dalam setiap lagunya.

“Sujud berusaha menciptakan kesenian, dalam bentuk garapan lagu-lagunya yang khas. Disebut seni, karena Sujud memberikan seluruh hidupnya, setotal-totalnya dalam berkesenian ngamen di jalan-jalan,” jelas Romo Sindhu.

Disamping itu, sifat ramah Sujud mampu menggambarkan kesahajaannya. Selalu menyapa dan tak ragu untuk srawung kepada semua elemen masyarakat. In pula yang mendasari pemilihan Mbarang Jantur sebagai tema pameran kali ini.

Dijelaskan, Mbarang jantur sendiri berasal dari lakon wayang Semar Mbarang Jantur. Kisah Semar dan Punakawan mengamen untuk memberi makan Arjuna yang kelaparan usai berperang. Maknanya, tradisi ngamen terkait dengan rasa lapar. “Tapi ngamen bukanlah mengemis karena dilakoni secara berkesenian,” jelasnya.

Romo Sindhu mengungkapkan, ada wujud kritis dari mengamen. Dimana kegiatan ini identik dengan masyarakat level kecil. Menurutnya, ini adalah bentuk kesenjangan dalam berekspresi untuk mencari nafkah antara yang kaya dan miskin.

“Sujud Kendang adalah bukti bahwa dia konsisten mencari nafkah. Berapapun penghasilannya dia tidak mengeluh dan tetap mengamen. Di sisi lain, ngamen juga sebagai bagian dari kekayaan seni di Jogjakarta,” jelasnya.

Sang seniman tak pelak tersanjung atas inisiatif para perupa ini. Tak henti-hentinya dia berterima kasih karena sudah dipandang sebagai seniman. Bahkan dengan telaten Sujud melihat karya para perupa satu per satu.

Pria kelahiran 20 September 1954 ini berharap ulahnya dapat menginspirasi. Menurut Sujud, hidup harus berjuang dan diperjuangkan. Baginya mengamen sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

Mulai berangkat pada pagi hari hingga pulang menjelang petang pasti dilakoni olehnya. Mengeluh, menurutnya, justru tidak bermanfaat. Ini salah satu alasannya setia melakoni profesi ini selama 52 tahun.

“Kalau memang bisa menginspirasi saya sangat senang sekali. Melihat karya-karya ini saya menjadi lebih tergugah. Berarti semangat saya dalam berkesenian sangat dihargai. Hanya mohon doanya agar selalu diberi rezeki dan kesehatan,” kata Sujud.

Perupa yang terlibat dalam pameran ini diantaranya AC Andre Tanama, Agung Pekik, Bambang Herras, Bambang Pramudyanto, Bayu Wardhana, Budiyana, Dyan Anggraini, Eddy Sulistyo, F. Sigit Santoso. Adapula Hadi Soesanto, Hari Budiono, Hermanu, Herpri Kartun. Juga Laksmi Shitaresmi, Lindu Prasekti, Maslihar, Nasirun, Pramono Pinunggul, Reza Pratisca Hasibuan, Ridi Winarno, Samuel Indratma, Sitopati, Subandi Giyanto, Susilo Budi Purwanto, Terra Bajraghosa, Wara Anindyah, dan Wilman Syahnur. (ila/ga/mg2)