JOGJA – Tak dipungkiri wilayah Jogjakarta menjadi salah satu kota yang disasar pengedar narkotika ataupun obat-obatan psikotropika. Pemberantasan pengedarannya membutuhkan kerja sama semua pihak. Polresta Jogjakarta berhasil mengamankan sepuluh pengedar obat-obatan jenis psikotropika dari berbagai lokasi. Dari tangan tersangka diamankan hampir 10 ribu butir obat psikotropika.

Bahkan, salah seorang pengedar berinisial, MA yang diamankan Satuan Reserse Narkoba Polresta Jogjakarta, berprofesi sebagai tukang parkir. MA yang diamankan di wilayah Sukoharjo, Jawa Tengah pada Sabtu (24/9) lalu diduga sebagai otak peredaran pil psikotropika di beberapa wilayah DIJ.

Dari tangan MA, diamankan beberapa butir pil calmlet, riklona, dan alprazolam. Anehnya, puluhan pil tersebut didapatkan dari apotek melalui resep dokter yang ada di Solo, Jawa Tengah.

“MA secara rutin mengambil resep dari dokter tersebut selama enam bulan terakhir. Kami masih melakukan pendalaman kenapa dokter ini bisa dengan bebas memberikan resep obat secara rutin,” jelas Kasat Reserse Narkoba Polresta Jogjakarta Kompol Sugeng Riyadi.

Setelah mendapatkan resep dokter, MA menebus obat-obatan per papan berisi 10 butir dengan harga Rp 40 ribu. Dengan harga itu, dia menjual kembali kepada pengedar lain seharga Rp 80 ribu. Bahkan, berdasarkan keterangan salah seorang saksi pemakai yang berhasil diamankan pil tersebut didapatkan dengan harga Rp 150 ribu.

Dari penggeledahan di rumah tersangka di Sukoharjo, ditemukan empat bungkus plastik berisi masing-masing lima butir pil calmlet, serta satu bungkus plastik isi lima butir pil riklona. Termasuk uang tunai senilai hampir Rp 2 juta, serta satu unit sepeda motor.

“Di dalam bagasi jok motor ditemukan juga pil calmlet 20 butir, pil apprazolam 10 butir, dan pil riklona lima butir,” sebut dia.

Tertangkapnya MA, berdasarkan pengembangan para pengedar yang sebelumnya juga diamankan Polresta Jogjakarta pada 20 hingga 21 September lalu. Pengedar yang diringkus di sejumlah lokasi di Jogja yakni BA, SR, dan EF. “Mereka mengaku mendapatkan pil-pil tersebut dari MA,” jelasnya.

Oleh ketiganya obat-obatan itu dijual lagi ke pembeli yang kebanyakan kalangan menengah ke bawah yakni para pengamen dan anak-anak jalanan. Selain jaringan MA, Polresta Jogjakarta juga meringkus pengedar obat penenang lain berjenis trihexyphenidyl. Sebanyak 8.856 butir obat yang biasa disebut yarindo ini diamankan dari tangan MS, DA, dan SL serta MSN.

Keempat tersangka mendapatkan ribuan obat yang memberi efek penenang itu dari Bry yang kini tengah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Mereka membeli obat-obatan tersebut melalui akun Instagram. “Obat ini dijual bebas dan mendapatkannya pun tanpa perlu resep dokter,” jelasnya.

Sementara pada Sabtu (24/9) lalu, polisi juga meringkus HS di kawasan Tegalrejo karena mengedarkan pil yang sama. Dari tangan HS polisi mendapatkan 76 butir pil yarindo.

Dia menegaskan sepuluh pengedar tersebut dijerat atas tuduhan menjual barang-barang psikotropika Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Sementara untuk pelaku yang menjual obat nonpsikotropika dijerat Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan “Hukuman penjara 10 tahun serta denda Rp 1 miliar,” tegas dia.

Kapolresta Jogjakarta Kombes Pol Tommy Wibisono menjelaskan, tersangka sudah banyak mengedarkan pil tersebut di sejumlah wilayah di Jogjakarta. Diduga, peredaran terbanyak ada di Wirobrajan dan Jetis. “Sasarannya masyarakat kelas menengah ke bawah,” jelasnya.

Dia menjelaskan, meski dijual murah obat tersebut memiliki efek yang cukup membahayakan. Bila digunakan dalam waktu lama, membuat kerusakan otak. Di jalanan, obat tersebut didapat dengan harga Rp 30 ribu untuk sepuluh butir.

Obat-obatan tersebut, rata-rata digunakan sebagai obat antidepresi. Dari keterangan pemakai, setelah menggunakan obat tersebut mereka menjadi lebih rileks, dan percaya diri meningkat. “Bahkan menjadi lebih berani dan tidak punya malu,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala BNNP DIJ Komisaris Besar Soetarmono mengatakan, DIJ masih menjadi satu dari sebelas provinsi di Indonesia yang menjadi fokus pemberantasan peredaran narkoba. Meskipun, menurut riset BNN dan Pusat Penelitian Kesehatan UII, pengguna di DIJ menurun pada 2015 dibandingkan tahun sebelumnya.

Dijelaskan, pada 2014 ada sebanyak 62.028 pengguna di DIJ, dan jumlah tersebut turun menjadi 60.182 orang. Sementara dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia, DIJ turun di posisi lima besar menjadi delapan besar. Meski menurun, namun BNNP DIJ mewaspadai meningkatnya pengguna coba-coba. Sebab, jumlah tersebut yang mendominasi pada 2015, dan sasarannya adalah pelajar serta mahasiswa.

Untuk itu, sesuai dengan imbauan Presiden RI untuk menyasar daerah prioritas, BNNP DIJ akan mengeroyok daerah rawan atau rentan narkoba, bersama jajaran kepolisian dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait.

Salah satunya dengan gencar melakukan razia ke kos-kosan dan tempat hiburan. Tim gabungan melakukan penyisiran dengan menarget tempat-tempat hiburan pada akhir pekan. Di hari normal penyisiran dilakukan di kos-kosan. (bhn/ila/mg1)