BANTUL – Bupati Bantul Suharsono kemarin (26/9) terjun langsung meninjau sejumlah lokasi lahan pertanian yang terendam air. Itu menyusul hujan deras yang mengguyur wilayah Bantul selama beberapa hari terakhir. Salah satu lokasi yang ditinjau berada di Dusun Plebengan, Sidomulyo, Bambanglipuro.

Lahan pertanian di wilayah ini sengaja menjadi tujuan inspeksi mendadak (sidak) orang nomor satu di Bumi Projo Tamansari ini. Sebab, lahan pertanian seluas 20 hektare ini rutin terendam air manakala terjadi hujan deras.

“Makanya saya cek langsung,” jelas Suharsono.

Dari pencermatannya, ada sejumlah faktor yang menjadi pemicu tergenangnya lahan pertanian ini. Di antaranya, tingginya tumpukkan sendimen di saluran afvour atau pembuangan air di sekitar lahan pertanian. Itu diperparah dengan banyaknya rerumputan yang tumbuh di dinding-dinding afvour. “Saya minta pamong dan warga kerja bakti membersihkannya,” ucapnya.

Faktor lain adalah kecilnya saluran gorong-gorong. Suharsono memperkirakan gorong-gorong hanya sekitar 1,5 meter. Sementara, lebar saluran afvour sekitar 2,5 meter hingga 3 meter. “Belum lagi banyak kotoran di gorong-gorongnya,” ungkapnya.

Dengan begitu, saluran afvour yang berhulu di Sungai Winongo ini tak berfungsi maksimal. Sehingga airnya kerap meluap jika terjadi hujan deras.

Suharsono berjanji bakal menuntaskan problem tahunan para petani ini. Dengan menganggarkan proyek pelebaran gorong-gorong di Dusun Plebengan pada APBD 2017.

“Nanti saya prioritaskan,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, pensiunan perwira menengah Polri ini juga menyayangkan sikap pemerintah sebelumnya. Itu karena warga dan perangkat desa setempat telah berulang kali mengajukan pelebaran gorong-gorong. Tetapi, tak menuai respons. “Sudah puluhan tahun diajukan, tetapi nggak ada realisasinya,” sindirnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul Pulung Haryadi mengimbau para petani gotong-royong membersihkan saluran afvour. Begitu pula dengan saluran tersiernya. Itu bertujuan agar saluran air di sekitar lahan pertanian ini berfungsi maksimal. “Biar tidak berakibat seperti ini,” tutur Pulung sembari menunjuk lahan pertanian di Dusun Plebengan yang terendam air.

Menurutnya, jumlah lahan pertanian yang terendam air cukup luas. Mencapai 500 hektare. Itu tersebar di Bambanglipuro, Kretek, dan Srandakan. Kendati begitu, Pulung optimistis luas tanaman yang berpotensi gagal panen tidak begitu signifikan.

“Karena hujannya tidak terus-menerus,” klaimnya.

Tampak hadir dalam sidak ini sejumlah perangkat desa Sidomulyo dan petani di Dusun Plebengan.(zam/din/mg2)

Usulan Desa Mentog di SKPD

BANTUL – Kasi Pembangunan Kelurahan Sidomulyo, Bambanglipuro Jati Wibowo membenarkan area pertanian di Dusun Plebengan rutin terendam air. Air ini berasal dari luberan saluran afvour. “Pasti kebanjiran kalau hujan deras,” jelas Jati kemarin (26/9).

Bahkan, Jati meyakini tidak hanya lahan pertanian di Dusun Plebengan yang terdampak. Lahan pertanian di sebagian kelurahan Mulyodadi (Bambanglipuro) dan Donotirto (Kretek) juga mengalami hal serupa. Bagaimana tidak, afvour yang berhulu di Sungai Winongo ini melintasi tiga kelurahan. “Total ada 100 hektare yang pasti terendam di tiga wilayah ini,” ujarnya.

Parahnya lagi, luberan air dari saluran afvour ini juga menggenangi ruas jalan utama di Sidomulyo. Juga, sebagian permukiman warga. Menurut Jati, genangan air ini muncul karena saluran gorong-gorong yang dilintasi air dari afvour cukup sempit. “Nek cilik, yo, mesti mbludak banyune. Kudune gorong-gorong digedekke,” tuturnya.

Ditegaskan, perangkat desa Sidomulyo sebenarnya tak tinggal diam dengan problem ini. Perangkat desa rutin memasukkan program pelebaran gorong-gorong dalam musyawarah rencana pembangunan desa (musrenbangdes). Tetapi, usulan perangkat ini selalu mentog di tingkat satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

“Kesane malah dipingpong. DPU (Dinas Pekerjaan Umum) bilang kalau itu wewenang Dinas SDA (Sumber Daya Air). Anehnya, SDA juga bilang kalau itu wewenang DPU,” keluhnya.

Dengan sidak bupati ini Jati berharap pelebaran gorong-gorong segera terealisasi. Sebab, letak gorong-gorong ini tak jauh dari lahan pertanian subur di Dusun Plebengan.

Zahrowi, seorang petani asal Dusun Plebengan menyebutkan, ada sekitar 20 hektare lahan pertanian di Dusun Plebengan. Lahan pertanian ini ditanami dengan aneka ragam jenis tanaman. Mulai lombok, jagung, padi, hingga kacang-kacangan. “Terendam semalaman gara-gara hujan kemarin,” ungkapnya.

Kendati begitu, Zahrowi berharap para petani tidak merugi. Tak terkecuali dirinya. Dia berharap tanaman cabai miliknya yang baru berusia empat minggu tetap hidup. “Walaupun hasilnya tidak maksimal karena terendam air,” tambahnya.(zam/din/mg2)