Mengenal Sosok Drummer Mahesa Santoso Utomo
Musik sudah menjadi bagian kehidupan Mahesa Santoso Utomo. Di usia yang masih muda, dia sudah menghasilkan dua album musik. Mengawali karir dengan album pertama Airplay, kini musisi 21 tahun ini hadir dengan album #JazzMahesaWay.
DWI AGUS, Sleman
SENYUM mengembang ketika Radar Jogja menyapa pemuda yang duduk di kursi drum, Minggu malam (26/9) lalu. Mahesa Santoso Utomo seorang drummer muda bertalenta itu usai menggelar konser istimewa. Bertajuk #JazzMahesaWay konser digelar di The Westlake Resto.

Pemuda kelahiran 5 Maret 1995 ini langsung menghampiri. Wajah lelah tak terlihat, dia justru sumringah karena hari itu dia telah menorehkan satu pencapaian dalam karir musiknya. Satu per satu dia menceritakan perjalanannya dalam bermusik.

“Kalau untuk solo, ini sudah album kedua saya. Disamping itu ada album bersama Rekoneko juga,” ujarnya mengawali perbincangan.

Dalam album baru ini, Mahesa menjajal dunia baru. Berangkat dari musik Jazz, dia mencoba memainkan genre lain. Mulai dari funk, swing, groove, fusion hingga latin yang dihadirkan dalam album terbarunya. Pantaslah mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis UGM ini melibatkan banyak musisi.

Termasuk dalam konsernya, sebut saja dedengkot musik jazz Benny Mustafa, Yance Manusama, Idang Rasidi hingga Troy Kurniawan. Nama-nama ini sudah memiliki jam terbang tinggi. “Mereka memiliki peran besar dalam dunia bermusik saya. Turut membantu dalam penggarapan album hingga memberikan banyak masukan,” katanya.

Dalam album musiknya, Mahesa memilih enam genre berbeda. Meski tetap berakar pada jazz, enam genre ini memiliki sentuhan berbeda. Mulai dari notasi hingga soul untuk memainkan agar lebih hidup. Hal ini diakui menjadi tantangan dalam album terbarunya ini.

Salah satu musisi yang menjadi tantangan berat baginya adalah Barry Likumahuwa. Sang bassist, menurut Mahesa, memiliki gaya bermusik yang unik. Genre funk yang diusung oleh putra dari musisi jazz senior Benny Likumahuwa itu tak mudah untuk ditaklukan.

Ini pula yang membuat Mahesa memerlukan waktu lebih untuk menyesuaikan diri. Meski begitu Mahesa menerima tantangan untuk berkolaborasi. Karya apik lahir dari kolaborasi mereka dalam lagu berjudul Funkmosphere.

“Paling menantang berkolaborasi dengan Barry karena style-nya yang tidak biasa. Perlu penyesuaian lebih. Tapi puas setelah mendegarkan hasilnya. Begitu juga dengan kolaborator lainnya,” ujar cowok yang belajar drum sejak umur enam tahun ini.

Dalam album ini Mahesa menghadirkan enam instrument music jazz. Selain Barry, ada lagu Groove Spell bersama Sahdu Rasjidi, Bubi’s Bop bersama As Mates, dan Shadow Behind The Street bersama Catur Kurniawan.

Dalam kesempatan konser kemarin, Mahesa juga mengundang sosok spesial dalam karir bermusiknya. Dia adalah Anggito Abimanyu yang selalu memberi nasehat dalam bermusik. Bahkan dalam kesempatan ini mereka berduet dalam lagu Dahaga milik Karimata.

Perjumpaan Anggito dengan Mahesa berawal dari sebuah program musik di televisi pemerintah. Kala itu Anggito melihat ada potensi besar dari Mahesa. Dibalik kemampuan bermusik yang mumpuni, remaja ini tidak terlihat canggung. Bahkan sangat membuka diri dengan berbagai level musisi. Anggito menilai semangat ini sangat penting bagi seorang musisi.

“Saya melihat Mahesa punya potensi besar, tapi tidak sombong. Dia mau srawung dengan musisi kampus, belajar bersama. Padahal dia sering kumpul dengan musisi level atas. Dia kerap berbagi ilmu bahkan tidak membatasi diri saat bergaul,” ujarnya.

Pertemuan ini berlanjut dengan wejangan yang diberikan oleh Anggito. Pertama Mahesa harus potong rambut, kedua daftar kuliah di FEB UGM dan menghormati orang tua. Anggito juga berharap karir bermusik Mahesa sejalan dengan prestasi akademik.

“Bermusik itu perlu, tapi pendidikan juga tidak boleh ditinggalkan. Keduanya sangat penting dan bisa berjalan berdampingan,” pesannya. (ila/mg1)