Ada Piala Raja Kretek Nitisemito sampai Jersey Tahun 90-an

Puncak perayaan hari ulang tahun ke-87 PSIM Jogja berlangsung 25-26 September kemarin. Apa saja kegiatannya ?
RIZAL SETYO NUGROHO, Jogja
Beragam acara digelar pada momen spesial ini. Sebut saja bazar, both makanan, mural, hiburan musik serta pameran memorabilia tentang PSIM. Salah satu yang dipamerkan adalah 74 jersey PSIM dari tahun 90-an sampai saat ini. Semuanya terjejer rapi di dalam Wisma Soeratin.

Salah satu panitia kegiatan Hasting Pancasakti mengatakan, jersey-jersey yang dipajang tersebut sebagian besar adalah koleksi dari suporter PSIM, Akbar Kusumo Wibowo. Sedangkan foto-foto yang turut dipajang adalah gambar kiriman suporter dan sesepuh PSIM. “Juga ada hasil foto-foto bagian media kami,” katanya kepada Radar Jogja, kemarin (26/9).

Selain jersey dan foto, turut juga dipamerkan koleksi-koleksi piala yang ada di lemari PSIM. Piala tersebut kebanyakan berasal dari tahun-tahun 40-an sampai dengan 90-an. Ada bahkan yang masih berbahasa Belanda.

Yang unik, juga piala kejuaraan tertuliskan Nitisemito dari Kudus. Nitisemito dikenal sebagai raja kretek yang memopulerkan mereka rokok cap bal tiga (tiga bola). Tulisan di piala tersebut juga masih dalam bahasa Belanda.

Nitisemito adalah pengusaha pertama yang melakukan promosi dengan menyewa pesawat Fokker dan menyebarkan pamflet kretek dagangannya. Ia juga memberikan hadiah kepada pembeli rokok kreteknya dengan gelas, piring, radio, dan sebagainya.

Pada tahun 1938, pabriknya mempekerjakan buruh sebanyak 10 ribu orang. Bahkan untuk menunjang usahanya yang berkembang pesat, Nitisemito mempekerjakan seorang Belanda ahli perbukuan. Produk rokok Nitisemito tersebar luas di kota-kota seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, hingga ke negeri Belanda.

Sayangnya Nitisemito tidak mempunyai generasi penerus, sehingga setelah ia meninggal pada tahun 1953, tidak ada yang mengurus usahanya. Bangunan serta aset perusahaannya bangkrut habis satu persatu. Itu menandakan, PSIM saat itu juga berjaya tidak hanya di Jogja namun juga di luar Jogjakarta.

Mengenai tujuan diadakan pameran tersebut, Hasting mengatakan, agar suporter tahu sejarahnya PSIM. Bahwa PSIM termasuk tim yang mengakar di Indonesia dan salah satu yang membidani lahirnya PSSI. “Diadakan di Wisma Soeratin juga agar tahu pendiri PSSI. Semakin bangga dengan PSIM dan bersama-sama memajukan tim dengan prestasi,” katanya. (din/ong)