Penyebaran Pil Psikotropika Dijual dengan Harga Murah
JOGJA – Dampak yang ditimbulkan dengan mengonsumsi pil psikotropika tak hanya sekadar menenangkan saja. Mereka yang mengonsumsi juga memiliki tingkat percaya diri tinggi dan tak punya malu bahkan cenderung agresif. Keberadaan pil psikotropika inilah yang dikhawatirkan sampai ke tangan pelajar.

Indikasi itu muncul dikaitkan dengan banyaknya aksi kekerasan yang dilakukan oleh pelajar baru-baru ini. Ada dugaan pelaku kekerasan di kalangan pelajar menggunakan obat-obatan tersebut. Hal itu menyeruak seiring dengan diamankan 10 ribu pil psikotropika dari sepuluh pengedar. Apalagi, pil-pil tersebut didapatkan dengan harga yang terbilang cukup terjangkau.

Pil berjenis riklona, calmlet, alprazolam, dan yarindo memiliki efek beragam bagi pengguna. Mereka yang meminum pil tersebut akan memiliki keberanian berlebih, cuek, dan tidak tahu malu. Efek inilah yang dikhawatirkan menjadi pendorong bagi pelajar untuk melakukan kekerasan.

Ketika dikonfirmasi ke Kapolresta Jogjakarta Kombes Pol Tommy Wibisono menjelaskan, pihaknya masih terus mengembangkan kasus peredaran ribuan pil psikotropika tersebut. Termasuk sasaran peredarannya di kalangan pelajar.

“Memang cukup mengkhawatirkan bila beredar di kalangan pelajar,” jelas Tommy, kemarin (27/9).

Dia menegaskan, sejauh ini pihaknya belum menemukan fakta obat-obatan tersebut beredar di kalangan pelajar di Jogja. Sejauh ini, pengedar banyak menyasar kalangan pekerja menengah ke bawah termasuk anak jalanan dan pengamen.

“Dari pengakuan tersangka belum ada temuan diedarkan ke kalangan pelajar. Meski secara jumlah yang ditemukan cukup besar,” terangnya.

Dia hanya bisa berharap kepada orang tua untuk melakukan pengawasan ketat terhadap anak-anak saat berada di lingkungan masyarakat. Dia meminta orang tua untuk tidak segan melapor ke kepolisian bila melihat anak mulai menjurus pada perilaku menyimpang.

“Jangan sampai anak terjebak menjadi pengedar. Kalau baru sebatas pemakai pil ini memnag belum bisa dihukum, namun bila sudah menjadi pengedar baru kami tindak,” jelasnya.

Kasat Narkoba Polresta Sleman Kompol Sugeng Riyadi masih terus melakukan pendalaman atas resep yang dikeluarkan oleh salah seorang dokter yang ada di Solo, Jawa Tengah sehingga pil-pil psikotropika tersebut bisa diperjual belikan secara bebas.

“Kalau mengambil di apotek dengan resep dokter tidak masalah. Yang menjadi masalah ketika obat yang ditebus dengan resep dokter itu diperjualbelikan kembali,” terangnya.

Sugeng menyebut, pihaknya masih memburu otak intelektual beredarnya obat-obatan tersebut. Termasuk, selama enam bulan, pelaku berinsial MA, bisa secara rutin mengambil resep dalam waktu yang cukup intens.

Seperti diberitakan sebelumnya, jajaran Polresta Jogjakarta mengamankan sepuluh pengedar obat-obatan jenis psikotropika dari berbagai lokasi. Dari tangan tersangka diamankan hampir 10 ribu butir jenis obat psikotropika. Ribuan pil tersebut didapat dari sejumlah tangan. Nah, salah seorang pengedar MA yang diamankan wilayah Sukoharjo, Jawa Tengah mengaku mendapatkan pil-pil itu dari apotek yang ada di Solo berdasarkan resep dokter dari kota yang sama.

MA menebus obat-obatan perpapan berisis 10 butir dengan harga Rp 40 ribu. Dengan harga itu, dirinya menjual kembali kepada pengedar lain seharga Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu dengan wilayah edar di Wirobrajan dan Jetis, Jogja. (bhn/ila/mg1)