SLEMAN – Veny Orianda hanya bisa terisak dengan kepala bersandar ke bahu suaminya Eko Purnomo di ruang sidang 1 Pengadilan Negeri (PN) Sleman kemarin (29/9). Dengan seksama kedua terdakwa kasus penculikan eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dr Rica mendengarkan putusan hakim ketua Ninik Hendras Susilowati.

Majelis hakim memutuskan hukuman pidana 2 tahun bagi Eko Purnomo dan satu tahun penjara bagi Veny. Keduanya wajib membayar sidang sebesar Rp 5000. Putusan tersebut didasarkan pada pasal 332 ayat 1 ke-2 KUHP Jo Pasal 55 KUHP ayat 1 ke-1 KUHP. “Mengadili dan menyatakan terdakwa satu Eko Purnomo dan terdakwa dua alias Veny telah terbukti secara sah dan meyakinkan tindak pidana bersama-sama melarikan perempuan dengan tipu muslihat,” ujar Ninik.

Hukuman yang diputuskan manjelis hakim lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum Johan Iswahyudi. Pada sidang sebelumnya beberapa waktu lalu, JPU menuntut kedua terdakwa telah dengan hukuman tujuh tahun dengan pasal dakwaan 328 KHUP penculikan.

Ninik menjelaskan, keadaan yang meringankan dari tuntutan hukum yakni karena terdakwa belum pernah dihukum dan berlaku sopan selama menjalankan sidang. Selain itu kedua terdakwa dinilai sebagai korban dari organisasi gerakan yang menyimpang dari ajaran agama. “Khusus terdakwa Veny masih memiliki anak yang masih berusia balita dan masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua,” ujarnya.

Dia menyebut keadan yang memberatkan putusan dikarenakan terdakwa menggunakan ayat-ayat suci Alquran untuk memengaruhi terdakwa. Apalagi, perbuatan para terdakwa menyebabkan dr Rica menjadi trauma.

Putusan hukum yang dijatuhkan kedua terdakwa mementahkan pledoi yang dibacakan pengacara mereka, Jeremias Lemek. Dalam pledoi berisi permohonan kepada majelis hakim agar kedua terdakwa dibebaskan dari segala tuntutan.

Mengingat, keberangkatan dokter Rica ke Kalimantan atas kemauan sendiri dan tanpa paksaan. Apalagi kedua terdakwa hanya anggota yang sedang menjalankan kebijakan organisasi . Namun permohonan tersebut dimentahkan oleh hakim. Hakim menilai kedua terdakwa berusaha mempengaruhi dr Rica selama tinggal di Lampung. Apalagi ketika itu dr Rica ditinggal suai yang sedang bersekolah di Jogja. Selain itu kepergiaan dr Rica ke Kalimantan pun tanpa persetujuan suami.

Ketika dr Rica sampai di Kalimantan, dan ingin memberi kabar tidak diberi akses untuk berkomunikasi. Ini diketahui dari kartu handpone yang telah diformat dan hanya diberi kartu baru. Bahkan, terdakwa juga meminta agar suami dr Rica mencabut laporan kepolisian. “Tidak ada upaya dari terdakwa untuk segera mengembalikan dr Rica,” jelasnya.

Kuasa hukum terdakwa Jermias, menyayangkan putusan hakim. Apalagi, putusan yang digunakan tidak sesuai dengan tuntutan primer yang dituntutkan JPU. “Kenapa yang digunakan untuk putusan pasal 332? Padahal JPU sudah mengesampingkan pasal ini. Kalau menggunakan 328 tidak terbukti unsur penculikan karena tidak ada unsur paksaannya,” jelasnya.

Jeremias menyebut, pihaknya masih akan mempertimbangkan putusan hakim. Namun secara pribadi, Jeremias berhadap untuk melakukan banding. “Namun keputusan akhir ada di tangan klien saya,” jelasnya. (bhn/din/mg2)