Tanah Legenda jadi tempat penuh kenangan bagi Muhammad Nur Fathoni dan Riska Agustin. Tentu saja selain Kejuaraan Junior Balap Sepeda di Kalimantan Barat 2009 silam, saat kali pertama kali keduanya dipertemukan. Apa kenangan mereka kali ini ?
DEWI SARMUDYAHSARI, BANDUNG
PON 2016 yang istimewa bagi mereka. Bagaimana tidak, keduanya berhasil mendulang medali emas untuk Jogjakarta tercinta. Tidak ada lagi kata yang bisa mereka ungkapkan, selain bersyukur.

Ya, arena balap sepeda bukan hanya tempat pembalap beradu cepat. Siapa sangka menjadi para atlet juga menemukan belahan jiwanya. Satu dari sekian pasangan atlet, adalah Fathoni dan Riska. Dua pembalap sepeda Jogjakarta, yang dua-duanya ikut memperkuat tim balap sepeda DIJ di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016.

Pertemuan keduanya pertama kali di Kalimantan Barat. Saat itu keduanya sama-sama menyeberang pulau untuk mengikuti kejuaraan junior balap sepeda. Kecintaan keduanya pada balap sepeda, membawa keduanya untuk menyatukan diri dalam nakhoda rumah tangga. “Ya, dia (Riska) yang selama ini yang jadi motivasi saya,”ujar pria kelahiran Semarang, 23 Maret 1992 ini.

Tampil kali pertama di PON diakui juga berkat dorongan mental dari sang istri. Selain orang-orang di balik layar, yakni para pelatih yang memberi dukungan, membuatnya bangun ketika jatuh. Membuatnya menegakkan kepala ketika gagal dan kembali bangkit.

Menemukan belahan jiwa dengan dunia yang sama membawa keberuntungan tersendiri bagi Fathoni. Apalagi, dengan Riska tanpa sungkan dan harus menjadi dominan, apapun bisa diperbincangkan. “Apa-apa ya saya curhat sama dia. Berlombanya harus gimana. Nanti harus bagaimana. Dialah motivasi saya,”ujarnya seraya tersenyum pada sang istri.

Pengalaman mengayuh sepeda di trek balapan profesional memang lebih dulu dilakoni Riska. Kesempatan tampil di pesta olahraga terbesar di tanah air baru datang pada dirinya di PON XIX/2016 ini. Bisa masuk dalam tim DIJ, menjadi kesempatan pembuktian dirinya untuk bisa merengkuh prestasi dan naik podium tertinggi.

Di bawah tangan dingin para pelatih, Henry Setiawan dan Muhammad Basri, Fathoni berlatih keras. Menempa fisik dan juga mental. Bertekad untuk meraih medali emas. Dan itu, berhasil dia wujudkan. Dua medali emas berhak dia bawa pulang dari arena.

Emas pertama diraih saat mengayuh bersama Samai dan Fatahilah Abdullah di nomor team sprint 1.000 meter. Sedangkan medali emas kedua diraihnya dari nomor keirin putra. “Nggak nyangka, bisa dapat dua medali emas. Ini untuk anak dan keluarga saya. Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi,”ujarnya usai menerima pengalungan emas keduanya.

Bahagia yang dirasa menjadi dua kali lipat. Karena sanga belahan jiwa juga mampu naik ke podium tertinggi di arena yang sama. Bersama Dian Sofiatun yang menjadi duetnya di nomor sprint beregu putri, Riska berhasil menambah pundi-pundi medali emas untuk Kontingen DIJ. “Ya senangnya luar biasa, apalagi suami juga bisa menjadi juara. Karena ini pengalaman PON pertamanya,”ujarnya yang sudah dua kali tampil memperkuat DIJ di ajang multievent empat tahunan tanah air ini.

Di arena balap di daerah Cimahi, Jawa Barat ini, keduanya tidak hanya datang bersama tim. Tapi juga membawa anak sematang wayangnya, Bara dan keluarga tercinta. “Medali ini tentu untuk Jogjakarta dan keluarga kami tercinta,”ujar pembalap putri andalan DIJ ini.(din/mg2)