RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Ribuan warga DIJ memadati GOR UNY, kemarin (30/11). Bukan tanpa sebab, mereka berdatangan untuk mengikuti tablig akbar yang diadakan oleh Polda DIJ. Melalui kegiatan ini Polda DIJ berharap keamanan dan kedamaian NKRI tetap terjaga.

Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri menolak bila doa bersama dengan berbagai elemen ini disebut aksi tandingan terhadap kegiatan yang akan digelar pada 2 Desember atau yang akrab disebut 212. Ditegaskan, doa bersama kali ini tidak ada hubungannya dengan aksi di Monas meski bentuk kegiatannya serupa.

“Di Monas nanti aksi kesepakatan, doa bersama, dan salat berjamaah. Kegiatan ini tidak ada kaitannya, apalagi tandingan,” tandas Dofiri usai tabligh akbar.

Dia menyatakan, tidak ada larangan bagi masyarakat DIJ yang ingin mengikuti doa bersama di Jakarta. Namun, ditekankan alangkah baiknya, masyarakat tidak perlu berangkat ke ibu kota dan tetap tinggal serta memanjatkan doa dari Jogjakarta.

“Pengerahan dan penumpukan massa di suatu tempat bukan berarti tidak berisiko,” jelasnya.

Kapolda juga berpesan kepada penyedia fasilitas agar mengetahui secara pasti, fasilitas tersebut dimanfaatkan untuk perbuatan positif. Bila terbukti fasilitas yang disediakan digunakan untuk tindak pidana, maka penyedia bisa dikenakan sanksi hukum.

“Termasuk angkutan umum yang tidak sesuai dengan trayek bisa kena sanksi sesuai undang-undang,” jelasnya.

Mantan Wali Kota Joga Herry Zudianto menyambut baik aksi doa bersama kali ini. Sebagai warga Jogja, dia berharap masyarakat DIJ bisa menunjukkan kebhinnekaan yang mengarah pada persatuan.

Saat disinggung mengenai adanya anggota ormas Muhammadiyah yang berangkat ke Jakarta, pria yang juga menjabat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah ini mengatakan, mereka yang berangkat tidak menggunakan atribut ormas. “Kemungkinan berangkat atas nama sendiri,” jelasnya.

Di sisi lain, acara tabligh akbar dengan tema Doa dari Jogja untuk Indonesia di UNY diikuti sekitar delapan ribu peserta. Tausyiah dan doa dipimpin oleh KH Syarif Rahmat sedangkan istighotsah dipimpin oleh KH Kholiq Stifa.

Sementara itu, aksi nasional bertajuk Bhinneka Tunggal Ika Nusantara Bersatu digelar di Monumen Serangan Oemoem (SO) 1 Maret, kemarin (30/11). Aksi yang melibatkan puluhan komunitas dan instansi itu diikuti oleh ribuan peserta.

Berbagai komunitas kebudayaan, seniman, organisasi masyarakat, institusi TNI, dan Polri tampak berkumpul di taman parkir Abu Bakar Ali. Meski menggunakan atribut dan kostum yang berbeda-beda, ada sesuatu yang cukup khas yang dikenakan oleh ribuan peserta. Yakni, ikat kepala merah putih.

Dari taman parkir Abu Bakar Ali, peserta berjalan menyusuri kawasan Malioboro. Berbagai pertunjukan berupa drum band, bergada, kesenian tari serta paduan suara menambah semarak pelaksanaan kirab.

Setibanya di monumen SO1 Maret, sejumlah orasi dari berbagai tokoh dan keluarga pejuang dihadirkan. Mereka menyerukan kebhinnekaan yang mempererat persatuan bangsa tetap dijaga.

Sementara di penghujung acara, salah seorang legenda rocker Indonesia Ecky Lemoh dipercaya melantunkan lagu Indonesia Pusaka. Saat lagu tersebut berkumandang, Danrem 072 Pamungkas Brigjen TNI Fajar Setiawan, Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri, jajaran forum komunikasi daerah (Forkomida) DIJ beserta pemuka lintas keyakinan menyanyi bersama. Dengan tangan saling berjabat erat dengan yang lainnya, mereka melantunkan lagu ciptaan Ismail Marzuki itu.

Brigjen TNI Fajar Setiawan ditemui usai aksi berpesan agar warga hendaknya menjaga semangat kebhinnekaan untuk persatuan bangsa. “Nusantara Bersatu adalah gerakan nasional yang dikumandangkan di seluruh Indonesia,” jelas Fajar.

Koordinator acara Widihasto menyebut, masyarakat Jogjakarta masih memiliki kepedulian terhadap isu kebangsaan. Melalui acara ini, sebagai bentuk meneguhkan Indonesia yang berdasar pada kebhinnekaan, Pancasila, dan UUD 1945. “Semua berkewajiban untuk memperkokoh NKRI dan mengisi kemerdekaan,” jelasnya.

Dia menyatakan, acara ini sebagai bentuk penolakan terhadap segala upaya untuk merongrong kedaulatan NKRI dari dalam negeri maupun dari asing. “Acara ini hadir dari semangat kegotongroyongan,” tandasnya. (bhn/ila/ong)