Tak Sekadar Nyali Kuat, Kualifikasi bagi Relawan Juga Penting

Keberadaan tim search and rescue (SAR) DIJ memiliki peran penting dalam penanganan kebencanaan dan kecelakaan. Namun, dari dua ribuan anggotanya, ternyata tidak semuanya memiliki kualifikasi penyelamatan. Akhir tahun ini, sebagian besar dari mereka berkesempatan mendapatkan pelatihan kebencanaan.

BAHANA, Jogja
SEBUAH bangunan bergaya kolonial berdiri di Jalan Rakyat Mataram. Di dalamnya terdapat ruang-ruang yang berisi berbagai peralatan. Perahu karet, perlengkapan selam serta alat pertolongan vertikal tampak tertata dalam ruang-ruang khusus.

Di salah satu ruangan itu Komandan SAR DIJ Brotoseno berada. Mengawali obrolan, dia mengakui dari dua ribu anggota SAR DIJ tidak seluruhnya memiliki kualifikasi. Terutama kualifikasi dalam penanganan kebencanaan.

Meski tidak memiliki kualifikasi khusus, kerap kali mereka menjadi ujung tombak dalam melakukan penyelamatan. Bersama badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), anggota SAR bahu membahu melakukan penyelamatan.

Apalagi di tengah cuaca ekstrem seperti saat ini, seolah menjadi hari tersibuk bagi anggota SAR DIJ. “Setiap ada bencana, tanpa saya suruh mereka sudah berada di lokasi,” jelas Brotoseno di Kantor SAR DIJ, kemarin (30/11).

Dia menyebut, anggota SAR biasa tergerak karena panggilan nurani, bukan embel-embel apapun. Sebagai relawan, mereka tidak ada yang menggaji. Segala operasional, ditanggung dari kas keuangan SAR DIJ.

Saat ini ada sekitar 80-an komunitas relawan dengan jumlah bervariasi. Jumlah itu terbilang menyusut, sebab saat erupsi Merapi 2010 jumlah komunitas relawan SAR mencapai 200-an kelompok.

Jumlah itu menyusut, seiring perjalanan waktu dan kondisi DIJ yang relatif kondusif dari bencana. “Mereka ini kan tergerak karena ada penyebabnya. Sebagian relawan juga memiliki profesi lain,” jelasnya.

Nah, agar relawan ini bergerak tidak sekadar karena panggilan hati dan nyali yang kuat, sebanyak 1.300 relawan SAR DIJ akan dilatih dan didik. Rencananya, mereka mendapatkan diklat pada 3-4 Desember nanti di Lapangan Tritis Girikerto, Turi, Sleman.

Kepala Instruktur SAR DIJ Eko Susilo mengatakan, sangat penting memberikan pendidikan kebencanaan bagi anggota SAR. Hal ini, guna mengurangi risiko bahaya terhadap diri sendiri. “Jangan sampai tujuannya mau menolong malah diri sendiri menjadi korban,” jelasnya.

Mereka nantinya mendapatkan berbagai teori kebencanaan. Mulai dari pertolongan pertama gawat darurat, etika komunikasi, SAR dasar, pengenalan alat penyelamatan. Juga ilmu medan dan penggunaan kompas.

Para peserta akan diperkenalkan evakuasi kebencanaan erupsi Merapi. Nantinya, mereka bakal menyusuri lereng Merapi. Dalam penyusuran itu, diberikan halang rintang dan evakuasi yang harus dijalani. “Simulasi ini sesuai dengan sifat kebencanaan yang ada di DIJ. Ilmu ini juga bisa digunakan dalam penanganan insiden lain,” jelasnya.

Setelah mendapatkan pendidikan, tim SAR DIJ akan membentuk Batalyon Disaster SAR DIJ. Tim ini, dianggap telah memiliki kemampuan untuk melakukan mitigasi kebencanaan.

“Semacam pasukan batalyon dengan jumlah yang besar. Ke depan kami siap melakukan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dengan segela risikonya,” jelasnya. (ila/ong)