RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Hasil mengejutkan diperoleh dari penelitian mahasiswa Fisip Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) terhadap Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Jogja 2017.

Ternyata, masih banyak warga yang memiliki hak pilih belum kenal para calon yang akan bertarung dalam bursa demokrasi lima tahunan itu. Hal itu membuktikan lemahnya sosialisasi dari penyelenggara pemilu.

Dosen Ilmu Komunikasi UAJY Lukas Ispandriarno menilai, meski tidak bisa mewakili kondisi sebenarnya, hasil penelitian tersebut menjadi cambuk bagi KPU Kota Jogja maupun tim sukses peserta pilwali untuk lebih giat melakukan sosialisasi.

Lukas menduga, rendahnya pegetahuan warga bisa jadi disebabkan karena sikap apatis kepada pasangan calon, partai politik, maupun karena memang mereka tidak suka politik. “Terbukti ada warga yang menolak diwawancara ketika tahu terkait pilwali,” katanya dalam diskusi bersama Calon Wali Kota Jogja di Kampus II UAJY kemarin (30/11).

Penelitian dilakukan 21 Oktober hingga 2 November 2016. Melibatkan 70 warga Kota Jogja berusia 18-75 tahun dan 80 pemilih pemula (16-19 tahun).

Menurut Lukas, sebagian besar responden tidak kenal, bahkan tidak tahu sosok yang maju dalam pilwali. Baik pasangan calon (paslon) Imam Priyono (IP) -Achmad Fadli maupun Haryadi Suyuti (HS) dan Heroe Poerwadi (HP).

Dikatakan, dari total responden yang diwawancarai, 35 orang di antaranya mengaku tidak kenal IP-Fadli. Lalu 51 responden lainnya tidak tahu HS-HP.

Sementara di kalangan pemilih pemula, 53 responden menyatakan tidak tahu IP-Fadli dan 51 lainnya tidak kenal HS-HP.

“Meskipun begitu, 57 persen responden umum menyatakan akan menggunakan hak pilih di pilwali. Demikian pula 70 persen responden pemilih pemula,” jelas Lukas.

Sementara Achmad Fadli menuding rendahnya pengetahuan warga terkait Pilwali 2017 karena sosialisasi kurang gencar. Juga karena janji-janji politik para calon sewaktu kampanye yang tidak pernah terpenuhi. “Makanya kami komitmen tidak memberi janji tapi berbuat sesuatu sebagai bukti. Bukan berjanji terus dilupakan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan HP. Menurutnya, kurangnya gereget pilwali disebabkan perubahan metode kampanye dari periode sebelumnya. Apalagi, kampanye baru berjalan sebulan.

Kendati demikian, HP tak menampik adanya warga yang tidak tertarik pilwali karena beranggapan politik hanya berorientasi kekuasaan yang penuh intrik, saling jegal dan ejek. “Padahal kebijakan yang dibuat untuk menyejahterakan masyarakat juga bagian dari politik. Itu yang besok akan kami perbanyak,” janjinya. (pra/yog/ong)