RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Kota Wates diklaim telah menjadi wilayah yang warganya tidak buang air besar sembarangan (BABS). Oleh karena itu, tahun depan Wates akan dideklarasikan sebagai daerah Stop BABS.

Demikian disampaikan Kepala Puskesmas Wates Anie Mursiastuti saat mendeklarasikan Stop BABS di Desa Giripeni Wates kemarin. “Desa Giripeni merupakan desa terakhir di Kecamatan Wates yang sudah mendeklarasi Stop BABS. Desa lainnya sudah,” kata Anie.

Kebiasan BABS itu adalah warisan turun temurun. Sehingga perlu proses lama menyadarkan masyarakat tidak BABS. Khususnya warga di pinggir sungai.

“Mungkin nyaman BAB di sungai sambil merokok, karena udaranya bebas, tidak di dalam ruangan,” ujar Anie.

Dia sebagai petugas kesehatan tidak jemu memberi pengertian warga supaya sadar BABS tidak sehat. Mayoritas warga juga sudah memiliki jamban, namun pemerintah masih membagikan jamban kepada keluarga yang membutuhkan.

“Itu sifatnya peningkatan kualitas, warga yang jambannya model cemplung menjadi jamban ber-septic-tank,” kata Anie.

Kasie Penyehatan Lingkungan Dinkes Kulonprogo Slamet Riyanta mengatakan BABS adalah kebiasaan yang sulit diubah dalam waktu singkat. Butuh proses tidak singkat.

Jumlah kecamatan yang mendeklarasikan Stop BABS ada enam dari 12 kecamatan se-Kulonprogo. Terdapat 62 desa yang sudah mendeklarasikan Stop BABS dari 88 desa/kelurahan se-Kulonprogo.

Yang belum mendeklarasikan Stop BABS antara lain Kokap, Samigaluh, Panjatan, Sentolo, Lendah, dan Galur. Kelima kecamatan tersebut BABS-nya serupa, tapi tak sama.

‘’Serupa karena masalah kebiasaan, berbeda karena untuk wilayah perbukitan BAB di kebun, sedang daerah rendah BAB di kolam sekitar rumah,” kata Slamet.

Daerah Panjatan merupakan daerah cekungan, di sekeliling pekarangan terdapat kolam panjang. Di kolam itu secara alami menjadi sarang ikan, sehingga kadang warga memanfaatkan untuk BABS. Padahal tinja mengandung bakteri pemicu penyakit. (tom/iwa/mar)