RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Kompleks SMK Negeri 1 Temon atau yang lebih dikenal dengan SMK Kelautan di Desa Kalidengen, Temon terendam air setinggi lutut orang dewasa, kemarin (30/11). Banjir dipicu hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Kulonprogo sejak Selasa malam (29/11).

“Air mulai masuk ke kompleks sekolah mulai pukul 21.30. Pemicunya banjir Sungai Kaligintung di wilayah Kokap. Saluran Kalidengen di depan sekolah meluap dan masuk ke bangunan sekolah. Di dalam ruangan, air naik setinggi 30 sentimeter,” kata Kepala SMK Kelautan Bejo Wahyono, kemarin (30/11).

Dia menjelaskan, letak sekolah yang berada tidak jauh dari pintu muara menyebabkan SMK yang memiliki 18 ruangan dan dihuni 450 siswa kelautan ini menjadi langganan banjir. Bahkan sejak 2010 silam.

“Dulu pernah banjir tetapi tidak separah ini. Hampir setiap tahun terkena banjir, tetapi tidak sampai masuk kelas. Kejadian ini termasuk luar biasa, mungkin karena cuaca ekstrem,” jelasnya.

Menurutnya, semua air yang mengalir dari wilayah utara yakni Kokap dan Wates, masuknya ke muara di Pantai Glagah. Belum lagi kalau posisi air laut pasang, jadi meluap dan menggenangi sekolah.

“Bisa dijadikan patokan, ketika hujan lebat terjadi di wilayah utara, banjir akan terjadi,” ungkapnya.

Akibat banjir, lanjutnya, kegiatan belajar mengajar (KBM) sementara dihentikan. Semua siswa diliburkan. Kebetulan siswa tengah menjalani Ujian Akhir Semester (UAS), sehingga terpaksa harus diundur.

“UAS dipindah harinya. Hari ini (kemarin) kami coba mengeringkan ruangan-ruangan dan membersihkan lumpur yang mengendap supaya besok pagi (hari ini) sudah bisa digunakan kembali,” jelasnya.

Ditambahkan, guru dan karyawan dibantu sejumlah siswa membersihkan ruangan dengan pompa air. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, genangan air ini akan surut dalam sehari. Dengan kondisi ini pihak sekolah juga telah menyiapkan beberapa rencana.

“Rencana jangka pendek kami ingin meninggikan ruangan dengan tanah urug setinggi 50 sentimeter. Supaya saat banjir seperti ini ruangan tidak kena, tegel nanti dipasang ulang, dan pintu dinaikkan,” ungkapnya.

Disingung jumlah kerugian, Bejo mengaku tidak mengalami kerugian berarti. Terlebih, sekolahnya sudah sering langganan banjir sehingga bisa melakukan antisipasi untuk menekan kerugian.

“Ketika ada informasi banjir masuk pukul 21.30 kami naikkan semua brankas dan barang-barang ke atas meja. Itu juga karena pengalaman banjir sebelumnya, dimana banyak berkas yang terendam, dengan pengalaman itu pula laci paling bawah selalu kami kosongkan,” ucapnya.

Muhammad Bagas Ardiansyah, siswa Kelas II Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan SMK Klautan mengungkapkan, kebetulan banjir datang di hari terakhir UAS. Terpaksa siswa harus bersabar menunggu genangan air surut.

“Semoga tidak memecah konsentrasi. Semoga banjir yang rutin terjadi ini segera mendapatkan solusi penanganannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan Dinas Pendidikan Kulonprogo Hendritati Widayati mengakui SMKN 1 Temon merupakan satu-satunya sekolah menengah atas yang sering kebanjiran di Kulonprogo.

“Lokasinya cukup dekat dengan muara sungai dan dikelilingi sawah, sehingga saat volume sungai tidak mampu menampung debit air, kompleks sekolah menjadi sasaran banjir,” ucapnya.

Terkait rencana sekolah menaikkan permukaan ruangan yang membutuhkan biaya tidak sedikit, Hendritati menegaskan, dinas akan mencoba mengusulkan renovasi bertahap ke pemerintah provinsi untuk anggaran perubahan 2017.

“Sebenarnya sudah pernah dilakukan renovasi berupa peningkatan pondasi dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten pada 2014 silam. Wacana relokasi juga sempat muncul, namun untuk relokasi tidak mudah, karena biayanya juga lebih besar. Relokasi menjadi opsi terakhir jika renovasi tidak efektif,” tegasnya. (tom/ila/ong)