RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Sebanyak lima balita di Kota Jogja, setiap 12 jam harus meminum obat antiretroviral (ARV) seumur hidupnya. Para balita itu tertular HIV (Human Immunodeficiency Virus) sejak bayi dari ibunya.

Menurut Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Jogja Ghanis Kristia, karena sudah terlahir dengan kondisi terkena HIV, anak tersebut harus minum ARV seumur hidup. Metodenya sama dengan orang dewasa, hanya dosisnya yang berbeda.

“Untuk anak juga sudah ada ARV anak yang harus diminum tiap 12 jam,” jelasnya, kemarin (1/12).

Ghanis mengatakan, dengan status terinfeksi HIV, anak masih bisa tumbuh dengan normal dan sehat, meski tiap hari harus meminum ARV. “Pengalaman ada yang hingga usia delapan tahun masih sehat. Bahkan tumbuh menjadi anak yang pintar,” jelasnya.

Sebagai pencegahan HIV dari ibu ke anak, lanjut Ghanis, ketika ada ibu hamil yang memeriksakan kesehatan akan ditawari untuk tes HIV. “Karena kalau sudah terlahir HIV harus minum obat seumur hidup,” sambungnya.

Data yang dimiliki KPA Kota Jogja sejak 2004 hingga Juni 2016 ini, total terdapat 819 orang yang terinfeksi HIV, 242 orang di antaranya sudah masuk fase AIDS. Pada tiga tahun terakhir, KPA mencatat ada temuan kasus HIV baru, sebanyak 133 orang pada 2014, 59 orang pada 2015, dan hingga Juni 2016 sudah ada 93 orang. “Dari persebaran, HIV sudah ditemukan di 14 kecamatan di Kota Jogja,” jelas Ghanis.

Sedang dari umur, jumlah pengidap HIV terbesar di Kota Jogja terdapat pada golongan usia 20-29 tahun sebanyak 52 persen. Sekretaris KPA Kota Jogja F. Kaswanto mengatakan, dengan masa inkubasi lima hingga 10 tahun, berarti pada usia belasan tahun sudah terinfeksi HIV.

“Artinya pada usia sekitar 15-17 tahun mereka terinfeksi HIV, bisa karena narkoba atau hubungan seks,” jelasnya.

Sementara dari profesi, jumlah kasus terbanyak yang dicatat KPA Kota Jogja merupakan wiraswasta dengan 18 persen, diikuti dari kalangan ibu rumah tangga sebanyak 11,79 persen. Jumlah kasus HIV pada ibu rumah tangga, jelas Kaswanto, bahkan lebih tinggi dari kasus HIV di kalangan pekerja seks komersial yang tercatat tujuh persen.

Kaswanto menambahkan, upaya penanggulanga HIV/AIDS di Kota Jogja makin diperkuat dengan terbitnya Peraturan Wali Kota (Perwal) No. 106/2016 tentang Penanggulanagn HIV dan AIDS yang dikeluarkan pada 27 Oktober lalu. Melalui perwal tersebut penanggulangan HIV/AIDS dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan.

Terpisah, Kepala Pengelola Program KPA DIJ Anna Yuliastanti mengatakan, berdasar data yang dirilis oleh Dinas Kesehatan DIJ hingga Maret 2016, terdapat 3.334 orang yang masuk ke fase HIV, sedangkan 1.314 orang sudah masuk ke fase AIDS.

Dari angka tersebut, setidaknya ada 122 PNS di wilayah DIJ, baik di Pemerintahan Provinsi (Pemprov) maupun kabupaten dan kota terdeteksi positif HIV/AIDS. Tak hanya PNS, dari kalangan TNI juga ada yang terdeteksi pengidap HIV sekitar 33 orang.

“Mereka yang sudah positif mendapat layanan orang dengan HIV dan AIDS (ODHA), ada edukasi dan terutama sosialisasi agar tidak ada diskriminasi,” ujarnya di sela seminar Hari AIDS se-Dunia 2016, kemarin (1/12).

Saat ini sudah ada 55 layanan dan puskesmas yang sudah bisa melayani untuk tes HIV. “Tahun 2005 baru ada lima layanan. Kini ada 55 layanan,” tandasnya.

Untuk itu, pihaknya secara berkelanjutan melakukan sosialisasi ke berbagai elemen masyarakat. Termasuk menghilangkan stigma di masyarakat agar tidak mengucilkan ODHA. Dalam memperingati Hari AIDS Internasional, Anna mengungkapkan, pihaknya menggandeng Korem 072/Pamungkas Jogjakarta untuk membuat komitmen bersama penanggulangan HIV/AIDS.

Kepala Staf Korem (Kasrem) 072/Pamungkas Jogjakarta Kolonel Inf Ida Bagus Surya menyambut baik penandatangan komitmen tersebut. “Kami sekarang memiliki referensi lengkap. Sehingga personel kami bisa menjaga diri dan keluarga terhadap bahaya virus HIV/AIDS,” jelasnya. (pra/dya/bhn/ila/ong)