Dapat Materi Tembang Macapat, Rajin Baca Naskah Babad Tanah Jawi

Meningkatkan pengetahuan abdi dalem dalam membaca dan menulis aksara Jawa, Keraton Jogja memberikan pelatihan kepada mereka. Kelas pamulangan ini diadakan setiap Selasa dan Kamis dengan peserta sekitar 25 orang di perpustakaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

VITA WAHYU HARYANTI, Jogja

BAHASA Jawa memang digunakan sebagai media komunikasi di lingkungan Keraton Jogja. Namun, ternyata belum semua abdi dalem mampu menulis huruf Jawa dengan baik. Agar makin mahir membaca dan menulis aksara Jawa, sejumlah abdi dalem mengikuti pelatihan yang diadakan secara rutin.

Menurut salah satu guru yang mengajar aksara Jawa KRT Rintoiswara, kegiatan ini merupakan upaya dalam melestarikan kembali bahasa Jawa melalui para abdi dalem. “Supaya mereka bisa ikut melestarikan melalui penggunaannya sehari-hari,” jelasnya saat ditemui di perpustakaan Keraton Jogja, kemarin (1/12)
Selama 2016 ini sudah digelar dua periode setiap empat bulannya. Peserta diberikan dua jenis buku aksara Jawa sebagai materi utama belajar mereka, yaitu buku Hanacaraka 1 dan 2. Dalam buku tersebut terdapat cara membaca dan menulis lengkap dengan tanda baca yang mempengaruhi bunyi.

Pada setiap pertemuan, KRT Rintoiswara dibantu KMT Projo Swasana mengajar satu bab saja. Peserta harus mengikuti cara membaca aksara Jawa dalam setiap bab tersebut berikut cara menulisnya.

Rinto, sapaannya, mengungkapkan, setelah jam pelajaran selesai, para abdi dalem juga diberikan pekerjaan rumah. “Saya juga sering memberikan materi tembang-tembang macapat dan cara menyanyikannya,” ungkapnya.

Selain itu Rinto juga membuat tulisan Jawa yang diambil dari arsip naskah Jawa Kuno untuk materi belajar abdi dalem, seperti naskah Babad Tanah Jawi. Setelah selesai belajar selama empat bulan, para abdi dalem akan mendapatkan sertifikat dari Keraton Jogja sebagai tanda kelulusan. Kelas pamulangan ini akan selesai akhir Desember 2016. Kelas ini akan diadakan kembali periode ketiga pada 2017 mendatang.

Salah satu abdi dalem, Suryatmojo, 41, mengaku pelajaran aksara Jawa ini sangatlah penting untuk diikuti. Baginya, hal ini merupakan tantangan besar. Sebab, meski saat ini berstatus abdi dalem, dia lahir dan besar di Jakarta. “Makanya saya harus belajar dari nol soal aksara Jawa,” tuturnya.

Selama mengikuti kursus periode kedua ini Suryatmojo sudah bisa membaca dan menulis aksara Jawa. Namun, menurutnya, masih harus diasah lagi. Dia kini rajin membaca naskah-naskah Jawa Kuno. “Nantinya ilmu yang sudah didapatkan dapat diterapkan di lingkungan sekitar saya,” ungkapnya. (ila/ong)