RADARJOGJA.CO.ID – BANTUL – Pendapatan asli daerah (PAD) sektor pariwisata Bantul selalu ditarget progresif setiap tahun. Begitu pula dengan PAD 2017. Bedanya, target peningkatan pendapatan tahun depan bakal diiringi dengan kenaikan retribusi.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bantul Lies Ratriana mengatakan, target PAD 2017 sebesar Rp 11,5 miliar. Atau naik sekitar Rp 300 juta dibanding 2016.

Kendati target yang dipatok cukup besar, Lies optimistis bisa mencapainya.

Toh, Dinas Pariwisata bakal berdiri sendiri pada 2017. Menyusul pemecahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Dengan begitu, beban kinerja Dinas Pariwisata hanya fokus pada penataan dan perbaikan sektor pariwisata. Atas dasar itu pula, Dinas Pariwisata tak akan kesulitan merumuskan strategi baru mendongkrak PAD.

“Ini satuan organisasi baru. Kebijakannya pasti juga baru,” jelas Lies usai menghadiri agenda pembahasan rancangan APBD 2017 di gedung DPRD Bantul kemarin (1/12).

Di luar kebijakan baru, Lies memastikan ada kenaikan retribusi masuk objek destinasi wisata. Kebijakan ini diambil lantaran besaran retribusi yang berlaku di seluruh objek pariwisata di Bumi Projotamansari dianggap ketinggalan zaman. Tidak mengalami perubahan harga sejak beberapa tahun terakhir. “Ini sudah saatnya dinaikkan,” ujarnya.

Kendati demikian, Lies memastikan kenaikan tarif retribusi tersebut tidak akan dibuat serampangan. Tapi berdasarkan pada koefisien yang berkaitan dengan produk domestik regional bruto (PDRB). Tetapi, lanjut Lies, hasil kajian ini juga tidak menafikan tingkat kemampuan masyarakat.

“Kalau hasilnya dianggap kemahalan, ya, kami kembalikan ke kebijakan,” tuturnya.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Bantul Setiya melihat kebijakan kenaikan tarif retribusi sebagai hal wajar. Pertimbangannya, tarif retribusi di seluruh objek di Bantul termasuk paling murah.

Di Parangtritis, misalnya. Setiap wisatawan hanya dipatok Rp 3.750 pada hari biasa. Adapun pada hari libur Rp 4.750. Tarif ini berbanding terbalik dengan banyak objek pariwisata di Gunungkidul. “Ini juga cara untuk meningkatkan wisatawan,” tambahnya.

Di sisi lain, Setiya mewanti-wanti agar kenaikan tarif retribusi diikuti dengan peningkatan fasilitas destinasi wisata. Juga perbaikan sarana-sarana yang usang. Dengan begitu, berapapun tarif baru nantinya harus berbanding lurus dengan kenyamanan yang berhak diterima wisatawan. (zam/yog/mar)