RADARJOGJA.CO.IDJawaPos.com Meski Pemerintah Kutai Timur (Kutim) telah menutup dan menyegel paksa rumah prostistusi Tenda Biru di Kecamatan Teluk Pandan, November lalu, namun pekerja seks komersial (PSK) rupanya masih nekat beroperasi menjajalkan jasanya di tempat tersebut.

Buktinya, Kamis (1/12) malam, sebanyak tiga orang PSK bersama seorang muncikarinya diamankan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kutim.

Dalam operasi itu, petugas juga mendapatkan barang bukti berupa 28 pak kondom, 24 botol minuman keras jenis bir dengan merek Bintang dan Guiness.

“Kami bergerak tadi malam (Kamis, Red) sekitar jam 11.00 Wita malam. Saat kita melakukan penyergapan di Tenda Biru, kita mendapatkan satu mucikari dan tiga PSK,” kata Kabid Tentratibum Satpol PP Kutim Suharman yang memimpin langsung jalannya operasi tersebut, Jumat (2/12) kemarin.

Dia mengatakan, sebelumnya pihaknya telah memantau aktifitas di Tenda Biru tersebut selama dua pekan terakhir. Sehingga sudah masuk dalam target operasi. Pasalnya, dari pemantauan dilakukan didapatkan masih adanya aktifitas mesum di daerah itu.

“Saat kita amankan, para PSK tersebut sedang menunggu para pria hidung belang, dengan menyediakan beberapa botol minuman Bir di atas meja. Terus kita juga mendapatkan adanya puluhan kondom yang sudah mereka siapkan,” ungkapnya.

Suherman mengaku geram dengan adanya aktifitas itu. Karena pihaknya telah berulang kali menginggatkan para PSK dan mucikarinya. Sehingga apapun dalil dan alibi dari para PSK tersebut, pihaknya kini tidak mau tau lagi.

“Kami sebagai tim, atau pemerintah masih membijaksanai sebenarnya. Tapi untuk yang terakhir kalinya, kita akan mengingatkan lagi mereka (PSK, Red). Tapi kalau masih ada yang nekat lagi, ya mau ndak mau, meraka akan kita tindak tegas,” tegas pria yang karib disapa Cono ini.

Sebab berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim nomor 3 tahun 2016 tentang Penangganan dan Pemeberdayaan Penyandang Masalah Sosial, maka setiap PSK dapat dikenai sanksi pidana kurungan 3 bulan penjara dan denda Rp 50 juta.

“Di situ bukan hanya individunya, tapi juga badan atau orang yang menaunginya, bisa ikut tindak nantinya. Cuman aturan itu belum kami berlakukan, kami masih upayakan langkah persuasif. Kita masih memberikan toleransi,” tuturnya.

Dijelaskan Suherman, apa yang dilakukan pihaknya merupakan tindak lanjut pasca penutupan lokalisasi oleh Pemerintah Kutim. Kegiatan serupa akan terus dilakukan pihaknya hingga tempat tersebut benar-benar steril dari kegiatan prostitusi.

“Sebagai koordinator, kami dari Satpol PP mulai melakukan penyisiran dari kota perbatasan, dalam hal ini kawasan Tenda Biru yang merupakan pintu masuk ke Kutim. Setelah itu barulah langkah serupa dilakukan hingga ke dalam kota Sangatta, sampai ke daerah pedalaman nantinya,” katanya. (drh/fab/JPG/ong)