Bujidan, Padukuhan Kulonprogo yang Jadi Langganan Luapan Air Sungai Nagung


Wilayah DIJ rawan banjir dan tanah longsor. Itu biasa. Para korban terus mengeluhkan musibah tahunan itu. Bahkan, tak sedikit yang frustasi dan harus direlokasi.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

Bosan. Itulah kesan yang dirasakan warga Padukuhan Bujidan, Tawangsari, Pengasih, Kulonprogo menghadapi banjir tahunan yang melanda wilayah mereka. Tiap tahun, selama musim penghujan Bujidan selalu menjadi langganan banjir. Meskipun curah hujan tak begitu tinggi.

Terus dirundung banjir, mereka mulai merasa kurangnya mendapat perhatian dari pemerintah untuk keluar dari situasi itu.

Rabu (30/11), banjir kiriman dari wilayah utara kembali menggenangi ratusan rumah warga. Meski hanya berlangsung sebentar dan kemudian surut, air sempat masuk ke rumah-rumah warga dengan ketinggian mencapai 30 sentimeter.

“Selalu saja terjadi setiap musim penghujan. Kali ini termasuk yang parah. Kami ingin segera menyudahi musibah ini. Tapi, sayangnya pemerintah tidak ada perhatian,” keluh Ali Wijoyo, 66, salah seorang warga kemarin (1/12).

Air menggenani permukiman warga sejak Selasa (29/11) malam, sekitar pukul 19.00. Air mulai masuk ke dalam rumah sekitar tiga jam kemudian. Puncaknya pukul 02.00, Rabu (30/11) dini hari. Bahkan di luar rumah tinggi air naik hampir satu meter.

“Seluruh rumah di Bujidan tergenang air. Ratusan rumah. Dihuni tak kurang 300 kepala keluarga,” sahut Sujiman, 49, warga lainnya.

November ini saja sudah dua kali warga Bujidan harus bertarung dengan banjir. “Kami was-was jika sewaktu-waktu banjir besar datang dan kami tidak bisa apa-apa,” lanjutnya.

Hal paling mengkhawatirkan jika hujan deras turun pada tengah malam, saat warga tertidur pulas. Bukan tidak mungkin bisa menimbulkan korban jiwa jika warga terlambat bangun dan menyadari adanya banjir. Sehingga segera menyelamatkan diri.

Bujidan menjadi wilayah langganan banjir akibat luapan air Sungai Nagung yang membelah Kecamatan Kokap. Warga menduga, hal itu terjadi karena saluran drainase yang ada kurang memadai.

Lubang pembuangan drainase menuju sungai terlalu sempit, sehingga tidak bisa mengalirkan genangan air secara cepat. Jika sudah demikian, warga hanya bisa pasrah menunggu banjir surut.

“Kami berharap pihak berwenang segera mencari solusi untuk drainase ini. Mungkin bisa memperbesar saluran drainase atau bagaimanalah,” katanya.

Sebaliknya, Pemkab Kulonprogo selalu mengklaim telah berupaya menanggulangi musibah banjir yang melanda Bujidan.

“Kami terus berupaya melakukan penanganan banjir di wilayah selatan Kulonprogo ini, termasuk wilayah Bujidan. Kendati banjir tidak berdampak signifikan tapi kami berharap tidak berulang,” ucap Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Hepi Eko Nugroho.

Menangani banjir Bujidan, menurutnya, bukan tupoksi pemkab saja. Karena itu, dibutuhkan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) selaku pemangku kewenangan.(yog/ong)