RADARJOGJA.CO.ID-Ya, Jogjakarta kini punya klub basket profesional yang akan ikut kompetisi Indonesia Basketball League (IBL). Bukan klub baru sih, melainkan Bimasakti Malang yang pernah menelurkan pemain berkualitas seperti I Made Sudiadnyana, Andrie Ekayana, hingga era Dimas Aryo Dewanto.

Kepindahan klub yang yang merupakan merger dari klub-klub basket pada zamannya seperti Goodyear dan Bridgestone, ternyata dibidani orang Magelang. Yakni dokter Edy Wibowo, yang saat ini berdinas di RS Bethesda Jogja. Sejak kuliah di Fakultas Kedokteran UGM 1993, dia gemar bermain basket.

Cerita dimulai saat Edy menemani anaknya yang berusia 14 tahun mengikuti kejurnas basket U-14 di Rawamangun, Jakarta beberapa waktu lalu. Di kejuaraan tersebut, dari obrolan-obrolan, dia mendengar bahwa klub Bimasakti Malang akan dijual. Akhirnya dia mencari informasinya. Dia juga mempelajari rule of the game IBL 2017. Ternyata beda dengan sebelumnya, tahun ini ada perubahan yaitu klub harus berbentuk PT agar klub profesional.

“Lalu kami jalin komunikasi dengan pihak Bimasakti,” kata Edy.

Pihak IBL memang menghendaki peserta kompetisi 2017 adalah klub yang sudah berbentuk PT. Sementara masih banyak klub-klub yang dimiliki perseorangan atau yayasan. Termasuk juga Bimasakti. Pihak pengawas, pengurus dan yayasan beberapa kali rapat dan kesulitan menentukan hal itu. Maka akhirnya akhirnya diputuskan untuk dijual.

“Kalau saya ya seperti passion yang akhirnya ketemu kesempatan. Kenapa Bimasakti, ya karena saat itu yang dijual Bimasakti bukan yang lain,” tuturnya

Asli berasal dari Magelang tetapi Edy saat ini tinggal di Jogja. Kecintaan kepada dunia basket dimulai saat kuliah. Biasanya, jika sore hari dia berjalan dari kos-nya di daerah Sagan ke Karangmalang. Tujuannya adalah lapangan basket yang sebelumnya ada di utara Fakultas Bahasa dan Seni UNY.

“Biasa main three on three waktu itu. Sekarang masih rutin, kadang seminggu sekali,” beber pria berusia 42 tahun.

Setelah lulus di tahun 2000, dia lebih banyak bekerja di luar negeri. Yaitu menjadi advisor penanganan bencana organisasi kesehatan dunia WHO di daerah-daerah bencana. Dia berkeliling dari Myanmar, Filipina dan juga Amerika saat mendapat bencana badai Katrina. Termasuk juga Indonesia ketika tsunami Aceh dan gempa Jogja.

“Kembali ke Indonesia 2009, saya lalu ambil pendidikan spesialis mata dan saat ini bekerja di RS Bethesda,” ungkap dokter yang telah resmi mengakuisisi Bimasakti sejak November 2016 lalu. (riz/dem).